Pdt. Dr. Farel Panjaitan,M.Th.artikel

Artikel Teologi

Teologi Keadilan
Keadilan selalu terkait dengan hukum dan peradilan. Keadilan tercipta bila setiap orang dapat memperoleh apa yang menjadi haknya yaitu hak untuk hidup dalam kehidupan yang layak sebagai makhluk yang tertinggi di dunia ini dan juga hak untuk bebas memperjuangkan haknya dan juga untuk membela hak orang lain.
Di Mesir, keadilan dikenal sebagai gagasan “maat”. Maat diterjemahkan sebagai peraturan dunia (welt-ordnung), kebenaran (richtkeit) atau keadilan (grechtigkeit). Maat itu dipersonifikasi dan di-ilahikan menjadi ilahi wanita, yang berfungsi sebagai ilahi pengetahuan. Dalam “maat” akan tercipta keseimbangan unsur-unsur alam. Maat yang dikenal di dunia hikmat Mesir itu, juga berpengaruh ke Israel.
Teologia keadilan adalah satu teologia yang memusatkan perhatian pada upaya untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat dan bangsa yang korban dari berbagai ketidak-adilan. Teologia keadilan berpusat pada keadilan Allah (dikaiosune – bhs Yunani), yang memelihara, melindungi dan menyelamatkan manusia tanpa pandang bulu, hanya karena Kasih-Nya yang kekal dan ajaib itu. (Yoh. 3:16). Dosa adalah pelanggaran hukum Allah dan yang merupakan ketidak-adilan terhadap Allah. Tuhan Allah menuntut agar manusia mengakui hak dan kuasa Allah yang mutlak atas segala ciptaan (Kel. 20:5).
Sumber keadilan adalah Tuhan Allah sendiri. Sebab “Allah itu adil (tsaddiq = bhs Ibrani). Tuhan itu adil dalam segala tindakan-Nya terhadap ciptaan-Nya (Mzm. 145:17). Hukum Taurat dan Hukum Kasih Yesus berisi tentang Keadilan sebab dimana ada kasih, disitu akan ada Keadilan. Gagasan tentang Keadilan Allah harus diterapkan dengan jujur, tulus dan benar tanpa memihak (Im. 19:15), tidak menipu (Im. 19:36). Ketiga unsur itu harus dihayati, agar martabat manusia tinggi (Yes. 1:21). Keadilan Allah harus diterapkan dalam solidaritas dengan orang miskin, tertindas, terbelakang, dll (bdk. Kel. 23:7). Raja atau hakim harus tetap adil (Ams. 16:12). Keadilan harus terwujud dalam fungsi hakim (tsedeqah, Kej. 15:6). Dalam keadilan harus nampak unsur Theokratis dan etika.
Pandangan Alkitab terhadap keadilan sosial terkristal dalam kata myspat dan tsedeqah (hukum dan keadilan). Amos dipanggil Allah untuk memberitakan Keadilan dan Kebenaran kepada Israel yang sedang mengalami krisis multidimensi.

Teologia Amos didasari oleh pembebasan Israel dari Mesir, pemberitaan hukum Taurat, bimbingan Tuhan di padang gurun, dan pemberian tanah perjanjian. Amos tidak membawa amanat baru. Tetapi Ia dengan tegas mengecam kebobrokan keagamaan dan kehidupan (Am. 5:15:24). Lembaga pemerintahan diuji tentang kebenaran pelayanannya. Dalam peradilan juga terdapat konsep penyelamatan berkaitan dengan keadilan Allah (Yes. 1:24; 54:17).
Teologia kitab Amos meliputi “konsep Allah, hukum, penghukuman, ibadah, keselamatan dan menyoroti hubungan umat dengan sesamanya. Masalah keadilan dalam kehidupan bangsa Israel meliputi: (1) Penghargaan terhadap HAM bagi anak-anak hingga dewasa dan kaum tua, laki-laki dan perempuan.           (2) Hakekat ibadah sebagai pujian kepada Allah JHWH harus dilakukan dengan ikhlas. (3) Keadilan sosial adalah istilah yang berasal dari Allah sendiri dan melekat sebagai citra Allah yang dinyatakan dalam pembebasan, pemilihan dan pemeliharaan Allah atas umat-Nya. (4) Di sisi lain, keadilan berarti perwujudan tanggungjawab manusia dalam mengemban tugas dan panggilannya sebagai umat Allah. (5) Keadilan juga berdimensi eskatologis bagi Israel, yaitu, pengharapan akan kedatangan Mesias.
Yesus Kristus juga dengan tegas menegakkan keadilan dalam hukum kasih-Nya dan dalam semua ajaran-Nya dengan menekankan kepedulian kepada orang yang berkekurangan, orang yang sakit, yang tertindas, yang dalam penjara dan orang asing (Mat. 25:31-46). Keadilan harus ditegakkan dalam hubungan sesama dalam masyarakat (Mat. 12:18). Keadilan dapat terwujud apabila sifat yang selalu menonjolkan kekuatan, kekuasaan, kekerasan atau perang dihentikan. Allah yang menjadi mediator perdamaian bagi bangsa-bangsa di dunia. Perang bukanlah tujuan atau usaha mencapai tujuan, sebaliknya keadilan dan perdamaian akan terwujud apabila perang ditiadakan (Yes. 2:4-5). Istilah perang disini juga mencakup perselisihan, pertengkaran, perbantahan, perdebatan (conflicts, fights, disputes).
Keadilan dan syalom harus terwujud dalam tatanan alam dan masyarakat. Keadilan terjadi apabila kasih Allah dan kepada sesama manusia terwujud. Dan sebaliknya ketidakadilan terjadi apabila Kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia telah hilang. Yesus Kristus sendirilah Kebenaran itu (Yoh. 14:6). Jadi apa yang benar, sebab kebenaran Allah dalam diri Yesuslah yang menjadi norma keadilan. Semua ajaran Yesus dan pengorbanan-Nya bagi manusia adalah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, membebaskan manusia dari penderitaannya (jasmani dan rohani, Luk. 4:18-19).

Keadilan menurut Alkitab: “Keputusan hukum harus adil. Tidak boleh memihak (Ul. 16:18-20). Pembebasan dan perlindungan terhadap kaum lemah (Am. 2:6-7). Penyediaan kebutuhan pokok bagi yang berkekurangan (Yes. 58:7). Hukuman terhadap pelanggar hukum, ump. terhadap perampas milik orang lain dan penyalahgunaan kuasa yang ada padanya (R,. 13:3-4; I Raj. 21:1-3).
Kesimpulan

  1. Karya Allah yang mentranformasi orang berdosa menjadi anak-anak Allah di dalam Kasih karunia-Nya (Rm. 3:26) adalah wujud Keadilan Allah terhadap manusia. Jadi keadilan harus dilihat dalam terang kebenaran dan keadilan Allah yang harus terwujud nyata dalam pola hidup sebagai “manusia baru” di dalam Kristus (Ef. 4:24). Keadilan adalah tanda-tanda kerajaan Allah yang harus diwujudkan di dunia ini.
  2. Keadilan sosial adalah suatu pengakuan bahwa manusia adalah merupakan keluarga Allah, yang melampaui dimensi kepentingan pribadi. Setiap orang harus dapat menerima apa yang menjadi haknya dan menghargai martabat sesama manusia dengan menghormati “aspirasi-aspirasi serta peran serta” setiap orang. Bahkan harus sudi memperjuangkan hak orang lain demi terwujudnya hidup Syalom.
  3. Keadilan sosial harus ditegakkan dalam kehidupan ekonomi dengan adanya jaminan kesejahteraan masyarakat dan dengan terciptanya pemerataan pembangunan di setiap daerah di dalam satu bangsa. Keadilan sosial menunjukkan bahwa manusia adalah sumber, pusat dan tujuan hidup sosio ekonomi.
  4. Di era globalisasi sekarang ini, dunia menghadapi krisis multidimensi yaitu krisis iman, krisis moral, krisis HAM dan keadilan, krisis ekonomi. Gereja sebagai tubuh Kristus yang nampak di dunia ini harus menyuarakan suara kenabiannya untuk memperjuangkan hak bagi orang yang telah kehilangan hak, memperjuangkan keadilan bagi orang yang dilanda ketidakadilan.
  5. Gereja harus turut ambil bagian di dalam setiap perjuangan untuk HAM, keadilan dan martabat manusia dengan turut aktif membina warganya di bidang spiritual dan moral, baik melalui pendidikan maupun melalui pendidikan maupun melalui sikap yang tegas terhadap ketidakadilan.
  6. Gereja harus berupaya memberikan sumbangan pemikiran yang positif untuk menciptakan kondisi dimana pemerintah bersama rakyat mampu mengembangkan kebijakan dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan visi bangsa dan negara kita. Amin. Syalom. Haleluya.

Oleh : Pdt Dr Farel Panjaitan, MA, MTh

(Penulis adalah Dosen Universitas HKBP Nommensen)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: