Andreas A. Yewangoe/PGI

Artikel Teologi

Andreas A. Yewangoe
Konperensi Gereja Dan Masyarakat VIII PGI
I. Konperensi Gereja Dan Masyarakat II di Era Reformasi

Konperensi Gereja Dan Masyarakat VIII PGI ini adalah yang kedua diselenggarakan di dalam era Reformasi. Yang pertama dilaksanakan pada 29 September – 4 Oktober 1998 dengan tema: “Carilah Tuhan, Maka Kamu Akan Hidup”, dan subtema: “Panggilan Kita Untuk Bersama-sama Mengatasi Krisis Masyarakat Dan Bangsa.” Pada waktu itu kita baru saja mengalami masa transisi ketika Orde Baru di bawah Presiden Suharto mengakhiri masa pemerintahannya selama 32 tahun. Maka reformasi dimaknai secara positif sebagai menjalankan perubahan dan pembaruan untuk mencapai kebaikan. Reformasi, dengan demikian dilihat secara konstruktif, bukan destruktif. Bahkan reformasi adalah upaya re-humanisasi (pemanusiaan ulang), yaitu tatkala hak-hak asasinya dihormati, kebebasan berpikir dan berkarya difungsikan ulang, sendi-sendi dasar demokrasi dikembalikan, kekuasaan-kekuasaan yang memenjarakan manusia dibatasi, struktur-struktur yang menindas diubah dan diperbaiki.*
Tema yang dipilih pada waktu itu, yang sekaligus merupakan tema Sidang Raya PGI di Palangka Raya (2000) hendak menegaskan, bahwa ada kait-mengait antara “mencari Tuhan” dengan “hidup”. Artinya kehidupan sejati hanya bisa terjadi apabila kita mencari Tuhan. Maka orientasi kita harus terarah kepada Tuhan. Konsekwensinya bagi gereja-gereja adalah, gereja-gereja harus bertobat. Sedangkan subtema memperlihatkan adanya sense of urgency, sense of crisis di berbagai bidang (ekonomi, lingkungan hidup, pendidikan, iptek, dan seterusnya) yang saling kait-mengait.** Pendeknya, para “pejuang” reformasi menghendaki diwujudkannya suatu civil society (masyarakat berkeadaban), suatu masyarakat yang tidak terabsorbir ke dalam kemahakuasaan negara, tetapi yang benar-benar memperlihatkan kedewasaan di dalam menegakkan hukum yang berkeadilan, hak-hak asasi manusia, juga untuk hidup layak, demokrasi, dan seterusnya.
Setelah 10 tahun reformasi, dan penyelenggaraan KGM VII, sekarang kita melaksanakan KGM VIII. Maka inilah saat yang tepat untuk kita mengevaluasi berbagai “perkembangan-perkembangan” yang dicapai di dalam era ini. Capaian-capaian apakah yang dihasilkan? Benarkah kita makin memanusia (re-humanisasi), atau sebaliknya kita sedang mengalami de-humanisasi? Benarkah kita telah keluar dari berbagai krisis, sehingga penyelenggaraan KGM VIII ini misalnya tidak perlu lagi mencantumkan sense of urgency dan sense of crisis sebagai pemicu? Benarkah perjuangan menegakkan civil society (masyarakat berkeadaban) sedang berlangsung, atau kita sedang menuju kepada keruntuhan peradaban?
Sidang Raya XIV PGI yang diselenggarakan di Kinasih-Bogor (2004) merumuskan subtemanya: “Besama-sama Dengan Seluruh Elemen Bangsa Mewujudkan Masyarakat Sipil Yang Kuat Dan Demokratis Untuk Menegakkan Kebenaran, Hukum Yang Berkeadilan, Serta Memelihara Perdamaian.” Di dalam subtema ini yang kemudian dijabarkan di dalam “Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama” (PTPB) terkandung harapan-harapan, bahwa sebuah civil society yang kuat akan terwujud.*** Tetapi kita juga menyadari bahwa masyarakat berkeadaban itu belum nyata, atau setidak-tidaknya kita masih berada dalam proses menjadi. Proses demokratisasi berlangsung, kendati sering kita memahaminya hanya sebagai kemampuan mayoritas mempengaruhi keputusan-keputusan dengan suara terbanyak, dan belum menukik kepada nilai-nilai yang menyertai proses itu seperti penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, kemampuan untuk berbeda pendapat, dan seterusnya. KKN diperangi, tetapi juga korupsi berjamaah makin marak. Berbagai upaya-upaya untuk memperlihatkan keunggulan di bidang ekonomi dilakukan, tetapi kemiskinan juga makin memperlihatkan wajahnya yang mengerikan. Dan seterusnya. Di bidang kehidupan keberagamaan kita makin saleh, tetapi tidak mampu melihat dan menerima perbedaan-perbedaan pandangan. Kita mengklaim Allah seakan-akan hanya berpihak kepada kita. Kita minta Allah untuk hanya membenarkan apa yang kita lakukan, dan penolakan kita terhadap pihak lain, kita juga tuntut agar Allah melakukannya.
Dalam keadaan masyarakat dan bangsa kita yang seperti ini, kita menyelenggarakan KGM dengan tema, “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang” (Maz. 145:9b). Tema ini sekaligus akan menjadi tema Sidang Raya XV PGI di Mamasa-Sulawesi Barat pada tahun 2009 nanti.

II. Retrospeksi Tema SR XIV PGI

SR XIV PGI merumuskan temanya, “Berubahlah Oleh Pembaruan Budimu…”, yang diambil dari Roma 12:2b. Intinya adalah bahwa budi (nous) lah yang pertama-tama mengalami pembaruan, sehingga memungkinkan adanya perubahan. Pembaruan itu dilakukan oleh Roh Kudus. Hanya dengan pembaruan budi yang membawa perubahan, maka tercipta kemungkinan bagi adanya perubahan dan transformasi di bidang-bidang lainnya. Perubahan dan transformasi di dalam lingkungan gereja misalnya tidak dapat terjadi apabila budi tidak diterangi oleh Roh Kudus. Perubahan dan transformasi di dalam masyarakat pun demikian. Tidaklah cukup dengan menciptakan sekian bnayak aturan-aturan, UU, hukum apabila di dalam diri (yang terdalam dari manusia) tidak terjadi perubahan-perubahan.
Pertanyaannya adalah, apakah selama ini telah terjadi perubahan-perubahan? Tentu saja tidak mudah kita mengukurnya. Apalagi kita masih harus menciptakan alat untuk melakukan pengukuran itu. Tetapi setidak-tidaknya ada indikasi-indikasi yang bisa diacu bahwa kita memang sedang begerak ke depan.Di dalam gereja-gereja kita perubahan-perubahan macam manakah yang sedang terjadi? Kita mengakui bahwa di dalam kebanyakan gereja-gereja ada pertambahan jumlah anggota, baik secara alamiah maupun dengan cara-cara lain, seperti baptisan baru misalnya. Alhasil, gedung-gedung gereja yang ada dianggap kecil, dan karena itu dirasa perlu untuk membangun yang baru. Ini tidak selalu mudah direalisasikan di daerah-daerah tertentu seperti di Jawa Barat dan Banten. Ada juga gereja-gereja yang makin memberikan perhatian kepada yang berada dalam kesulitan-kesulitan dengan melipatgandakan anggaran belanjanya di bidang diakonia. Inilah suatu diakonia kharitatif, yang kendati perlu namun masih harus dilanjutkan dengan diakonia transformatif. Dan seterusnya. Pada pihak lain, kita masih mengalami kesulitan dengan persoalan kesatuan gereja-gereja sendiri. Apa persisnya yang kita maksudkan dengan kesatuan gereja? Apakah kesatuan diusahakan agar dunia percaya, atau agar dunia “yakin” bahwa kita ada? Yang disebut terakhir ini kadang-kadang tercampur-baur dengan pemahaman politik praktis. Visi mengenai keberadaan di dalam sebuah masyarakat majemuk misalnya tidak selalu sama. Ada yang melihat kehadiran gereja sebagai ada bersama masyarakat, solider dengan nasib masyarakat di mana gereja berada, sebuah presensia di dalamnya. Tetapi ada juga yang melihatnya sebagai semacam “penaklukan” terhadap masyarakat yang belum mengenal Kristus. “Menangkan Indonesia Bagi Kristus”, misalnya adalah salah satu slogan yang mengindikasikan, bahwa yang dimaksud dengan transformasi adalah setidak-tidaknya menjadikan Indonesia mengenal Kristus dalam pengertian “konvensional”. Maka tidak heran, kalau pemahaman macam ini lalu memarakkan isu kristenisasi di negeri ini. Maraknya penutupan gedung-gedung gereja secara paksa antara lain disebabkan oleh isu ini. Keberadaan gedung-gedung gereja tersebut dilihat sebagai strategi bagi kristenisasi itu.
Apakah semua itu adalah indikasi perubahan oleh pembaruan budi? Sidang Raya XIV memang memperkenalkan slogan, “Gereja Bagi Orang Lain”. Yang dimaksud adalah gereja yang terbuka, yang bersolider dengan nasib bangsa, yang tidak serta merta mengungkapkan diri sebagai ecclesia triumphant (gereja yang menang!), melainkan ecclesia servant (gereja yang melayani). Tentu tidak mudah merealisasikan ini, apalagi di tengah berbagai tekanan-tekanan yang diarahkan kepada gereja-gereja sekarang ini. Bahkan maksud baikpun bisa diinterpretasi sebagai mempunyai maksud-maksud sampingan. Namun semua itu tidak boleh menyurutkan tujuan gereja untuk melayani masyarakatnya. Tujuan bergereja adalah untuk melayani. Berusaha agar dunia yang kita tempati layak didiami. Itulah makna gerakan oikoumene, agar oikos (rumah) kita sungguh-sungguh menjadi rumah bagi semua.

III. Retrospeksi Subtema SR XIV PGI 2004

Subtema itu berbunyi: “Bersama-sama Dengan Seluruh Elemen Bangsa Mewujudkan Masyarakat Sipil Yang Kuat Dan Demokratis Untuk Menegakkan Kebenaran, Hukum Yang Berkeadilan, Serta Memelihara Perdamaian.” PTPB 2004-2009 menegaskan bahwa apabila kita sungguh-sungguh hendak melayani Kristus dan meneruskan Injil-Nya kepada bangsa ini, maka kita harus memberi perhatian serius terhadap persoalan-persoalan di atas.**** Apakah masyarakat berkeadaban yang kuat dan demokratis telah terwujud? Kita telah mensinyalir sebelumnya, bahwa proses berdemokrasi memang sedang berjalan di negeri kita. Namun tidak semua kita mempunyai pemahaman yang sama terhadap proses itu. Indonesia memang merupakan negara demokrasi ketiga terbesar sesudah Amerika Serikat dan India, tetapi hal itu baru terlihat di dalam pemilu-pemilu. Perilaku dan keadaban demokratis, seperti misalnya mengakui kemenangan orang lain dan mengakui kekalahan sendiri secara ksatria masih sangat jauh. Berbagai kekacauan di daerah-daerah setelah berlangsungnya pilkada adalah indikator bahwa kita masih belum memahami nilai-nilai demokrasi yang berada di dalamnya, bahwa demokrasi adalah pula perwujudan dari keberadaban. Kalau kita berbicara mengenai kebenaran, adakah kebenaran yang obyektif? Kita cenderung berbicara tentang kebenaran menurut versi tertentu. Adakah ukuran-ukuran untuk itu? Tidak mudah.
Hukum yang berkeadilan. Adakah hukum yang tidak berkeadilan? Tentu saja ada, yaitu ketika hukum-hukum diciptakan bagi interesa kekuasaan, dan atau kepentingan golongan tertentu, dan bukan bagi kesejahteraan bangsa. Kasus perda-perda bersyariat di daerah-daerah misalnya, adalah contoh. UU Anti Pornografi yang kontroversial itu adalah contoh telanjang di mana, bukan kepentingan seluruh bangsa yang diprihatinkan, melainkan kepentingan-kepentingan tertentu. Di sini juga terlihat dengan jelas ketidakmampuan kita melihat dan menghormati kemajemukan. Maka tidak heran mereka yang berpendapat lain, atau mempunyai pandangan lain dianggap sebagai musuh yang harus ditaklukkan seperti dalam kasus Ahmadiyah. Memelihara perdamaian adalah pula tugas lain yang tidak mudah diwujudkan ketika kecenderungan ketidakadilan marak di mana-mana. Bagaimana mungkin perdamaian dipelihara apabila rakyat Papua belum diberikan hak-hak mereka sebagaimana ditetapkan di dalam UU Otsus? Bagaimana mungkin perdamaian bisa dipelihara, apabila sebagian besar masyarakat masih miskin, sementara sebagian kecil sangat kaya? Perdamaian tidak bisa dipelihara apabila sebagian besar penduduk masih belum mempunyai akses yang cukup ke pendidikan dan kesehatan. Jelaslah bahwa memelihara perdamaian mempunyai sangkut-paut erat dengan perwujudan keadilan di segala bidang. Pemeliharaan perdamaian juga sangat berkaitan dengan rasa kebangsaan. Kebangsaan sejati adalah, ketika setiap orang merasa terikat secara emosional dengan bangsa ini, bukan karena dipaksa-paksakan dengan kekuatan senjata.

IV. Tema KGM VIII (SR XV PGI) Adalah Lanjutan Dari Tema SR XIV

“Tuhan itu baik kepada semua orang”, adalah akar guna memahami, bahwa gereja ada bagi orang lain. Yesus Kristus, demikian dikatakan dalam PTPB 2004 adalah “Manusia Bagi Orang Lain”. “Orang lain”, atau “semua orang” adalah siapa saja yang hidup dan bertetangga dengan kita, yang sama-sama menghirup udara yang sama, meminum air yang sama, yang menikmati matahari pagi yang sama, dan seterusnya. Di dalam interaksi kita dengan sesama pemahaman ini mencakupi semua bidang kehidupan. Tetapi di Indonesia, relasi antar-umat beragama masih merupakan persoalan akut. Relasi antar-umat beragama sering bisa sangat sensitif. Menyadari hal itu, maka Sidang Raya XIV secara khusus merumuskan sifat relasi itu di dalam PTPB 2004-2009 Bab VIII sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah menciptakan manusia menurut gambar dan citra-Nya (bnd. Kej.1:26). Allah adalah Allah bangsa-bangsa (bnd. Mazm. 47:9-10). Ia tidak saja mengasihi Israel, tetapi juga Edom, Mesir, dan seterusnya. Yesus Kristus memerintahkan agar kita mengasihi sesama sama seperti diri kita sendiri (band.Mt.22:39). Itulah hakekat inkarnasi Ilahi di dalam Yesus Kristus yang adalah Manusia Bagi Orang Lain. Atas dasar ini, maka kita menjalin relasi dengan sesama tapa memandang suku, ras, dan golongan.”
Rumusan ini sekaligus menegaskan bahwa dasar kita menjalin relasi dengan orang lain, bukan sekadar sesuatu yang praktis saja, melainkan alkitabiah. Allah memang adalah Allah Israel, tetapi Israel tidak dapat mengklaimnya sebagai Allah suku. Ia adalah Allah yang bebas, yang mengasihi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maka tidak ada alasan bagi Israel untuk merasa diri lebih hebat dari bangsa-bangsa lainnya. Bahkan kepada Israel diperintahkan untuk juga mengasihi bangsa-bangsa lain, sebagaimana misalnya terungkap dalam kisah Yunus. Di dalam Perjanjian Lama kita membaca bahwa bangsa-bangsa lain mempunyai “andil” di dalam pembentukan bangsa itu, sebagaimana diungkapkan di dalam ceritera Rut. Yesus Kristus yang menurut tradisi Injil-Injil bernenekmoyangkan “orang asing”, diyakini bukan saja sebagai Mesias Israel (kendati mereka tidak mengakuinya!), tetapi Juruselamat manusia. “Manusia Bagi Orang Lain”, berarti, Ia terbuka untuk dimasuki oleh berbagai persoalan-persoalan bangsa-bangsa lain itu.
Berbagai peristiwa-peristiwa di Tanah Air yang cenderung saling mengklaim Allah sebagai allahnya sendiri, baik di dalam kekristenan maupun di dalam agama-agama lainnya akan menghentarkan masyarakat kita kepada sikap-sikap fanatisme yang tidak perlu. Demikian juga, bisa saja diterapkan sikap kekudusan semu yang lalu menganggap keberadaan “pihak lain” sebagai mengganggu kekudusan itu. Dalam pemahaman teologi Kristen kita percaya bahwa justru Allah “mencemarkan” diri-Nya guna menyelamatkan mereka yang tercemar itu. Sikap menjadi “Manusia Bagi Orang Lain” merupakan amanat yang mesti diteruskan oleh gereja, sehingga dengan demikian gereja tidak menjadi arogan menghadapi pihak-pihak lainnya.

V. “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang…”

Kalimat ini diambil dari penggalan Mazmur 145. Inilah sebuah mazmur puji-pujian yang diklaim berasal dari Daud. Intinya adalah, Daud hendak mengagungkan kemurahan Tuhan yang telah dialaminya selama ini. Secara struktural Mazmur ini terdiri atas: a. pembukaan puji-pujian (1-4); b. perayaan dan peringatan terhadap perbuatan-perbuatan Allah yang baik (5-9); puji-pujian terhadap Allah sebagai Raja, Penopang alam-semesta, dan Juruselamat (10-20); d. Kesimpulan (21).
Kita melihat bagaimana kemuliaan dan kebesaran Tuhan diagungkan. Kemuliaan dan kebesaran itu nampak dalam berbagai perbuatan-perbuatanNya dan yang disaksikan oleh manusia dari angkatan ke angkatan. Itulah pula alasannya mengapa manusia, dari angkatan yang satu ke angkatan yang lainnya memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Dalam ayat 8-13 kita melihat penekanan kepada sifat Allah yang mengasihi dan menyayangi. Keagungan dan kemuliaan-Nya tidak bertindih-tepat dengan kekuasaan yang sewenang-wenang (potentia absoluta), tetapi dengan kemurahan-Nya (potentia ordinata). Bahkan Ia sabar dan besar kasih setia-Nya. Kalau manusia membicarakan keperkasaan-Nya, bukan dalam arti kesewenang-wenangan itu, tetapi dalam arti kemurahan-Nya. Tuhan bahkan setia dalam segala perkataan-Nya, dan penuh kasih-setia dalam segala perbuatan-Nya. Dalam beberapa bagian dari ayat-ayat 14-20 lebih jelas lagi kita melihat sifat Allah ini yang tidak membiarkan yang lemah jatuh oleh kelemahannya. Bahkan Ia merupakan Penopang bagi semua orang yang jatuh, dan Penegak bagi semua orang yang tertunduk. Ia digambarkan sebagai Yang memberi makan mereka pada waktunya. Dalam ayat 20 memang secara jelas dikemukakan mengenai “imbalan” yang dikehendaki Allah, yaitu, “Tuhan menjaga semua orang yang mengasihi-Nya, tetapi semua orang fasik akan dibinasakan-Nya.” Ini berarti bahwa tawaran pengasihan Allah tidak bisa hanya bersifat sepihak. Tawaran harus direspons, sehingga dengan demikian ia mempunyai makna. Anugerah bukan anugerah yang murah, kata Dietrich Bonhoeffer. Ia adalah anugerah yang ditandai dengan pengorbanan.
Ayat tema ini berada di dalam bagian kedua Mazmur ini yang mengajak untuk merayakan perbuatan-perbuatan Allah yang baik. “Tuhan itu baik kepada semua orang dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (ay.9). Menarik bahwa ayat ini didahului oleh ayat 8 yang menegaskan Tuhan sebagai Pengasih dan Penyayang, panjang sabar dan besar kasih-setia-Nya. Rahmani dan rahimi. Pemahaman seperti ini sangat jelas juga di dalam Islam. Setiap orang Muslim selalu mengucapkan kerahmanian dan kerahiman Allah di dalam melakukan segala sesuatu. Inti ajaran Kristus adalah Allah yang mengasihi. Bahkan Kristus lebih jauh lagi menerapkan ajaran kasih, yaitu bahwa musuh pun harus dikasihi dan berdoa bagi mereka.
Siapakah yang dimaksud dengan “semua orang” di sini? Itulah orang-orang yang berada di luar Israel. Kalau kita memperhatikan makna pemilihan Israel sebagai umat terpilih, yang dikuduskan, diasingkan bagi Tuhan, kadang-kadang kita terkejut bahwa berkat juga disediakan bagi mereka yang berada di luar lingkaran itu. Tetapi sesungguhnya jelas bahwa makna pemilihan itu sendiri tidak untuk diri mereka saja. Gerard von Rad, seorang ahli Studi Perjanjian Lama misalnya menegaskan, bahwa pemilihan itu adalah untuk pelayanan (election for service). Melalui pemilihan Abraham (yang belakangan dikenal sebagai “Bapa Orang-orang Beriman”), semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kej.11:3). Pembentukan (atau lebih tepat: penciptaan) Israel sebagai bangsa (sebagaimana secara luas dikisahkan dalam kitab Keluaran), tidak menempatkan mereka sebagai bangsa yang eksklusip, tetapi justru sebagai yang membuka diri terhadap bangsa-bangsa di sekitarnya. “Tuhan itu baik pada semua orang..” Penggalan kedua dari ayat ini mengacu kepada “rahmat”, suatu istilah Arab yang diindonesiakan yang mempunyai sangkut-paut dengan kata-kata rahmani dan rahimi. Rahim mengacu kepada rahim sebagai tempat “asal-usul” manusia, tempat dimulainya kehidupan, tempat dipeliharanya kehidupan. Itulah yang diperlihatkan Allah terhadap segala yang dijadikan-Nya. Segala yang dijadikan mengacu kepada seluruh ciptaan, bukan hanya manusia. Seluruh ciptaan inilah yang merupakan sasaran rahmat Allah. Kalau kita berpegang kepada pandangan ini, maka sangatlah jelas dasar keprihatinan kita kepada keutuhan ciptaan sebagai yang mempunyai dasar kuat di sini.
Semua yang diuraikan mengenai Israel dan sikapnya terhadap bangsa-bangsa sekitar memperoleh aktualisasi di dalam peristiwa Kristus. Di dalam Dia dan seluruh perbuatan-perbuatanNya seluruh umat manusia diberkati. Paulus menegaskan: “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” (Rm.10:12).

VI. Di dalam Kenyataannya

Bahwa Tuhan itu baik bagi semua orang, rasanya tidak ada yang menolaknya. Namun di dalam kenyatannya tidak selalu demikian. Berbagai ketegangan-ketegangan, bahkan konflik-konflik (berdarah) yang mengatasnamakan agama telah memakan korban begitu besar. Di dalam sejarah kita mengenal pertempuran-pertempuran atas nama Tuhan (lihat mislanya buku Karen Armstrong, Perang Tuhan), di mana secara jelas Tuhan diklaim berada di pihak masing-masing. Perang-perang salib yang dilancarkan di dalam abad-abad pertengahan masih menimbulkan perasaan traumatis yang tidak habis-habisnya hingga kini. Ketika peristiwa 11 September 2001 terjadi, dunia Islam goncang ketika Presiden George W. Bush Jr. mempergunakan istilah crusade, istilah yang mengingatkan kepada perang-perang salib. Apakah umat manusia akan terjatuh lagi ke dalam kancah perang atas nama Tuhan ini? Rasanya kita tidak menghendaki ini. Kita telah merasakan akibatnya yang pahit ketika terjadi konflik-konflik berdarah bernuansa agama di Maluku, Maluku Utara dan Poso.
Pada aras dunia telah terjadi aksi-reaksi. Tuduhan kepada pemerintah Amerika Serikat yang telah menerapkan kebijakan yang tidak adil (global injustice) di bidang ekonomi, dan berdampak ke bidang-bidang lainnya, diungkapkan melalui aksi-aksi teror di mana-mana. Siapakah teroris sesungguhnya lalu menjadi pertanyaan menarik. Di mata Amerika Serikat kelompok-kelompok ekstrim di dunia Islam adalah teroris, sedangkan bagi kelompok ini, justru Amerika yang teroris. Tidak dapat disangkal bahwa di Amerika memang muncul sikap fundamentalisme di dalam beragama yang dikenal sebagai neo-fundamentalism. Mantan Presiden Jimmy Carter mensinyalir itu di dalam bukunya berjudul, Our Endangered Values. Menurut dia, nilai-nilai yang disebarkan oleh Amerika yang diwarnai oleh neo-fundamentalisme ke seluruh dunia sangat berbahaya justru bagi keamanan dunia apabila aspek keadilan tidak diperhatikan. Menurut Carter, justru orang-orang seperti inilah yang berada di Gedung Putih sekarang yang mengelilingi Si Pengambil Keputusan, Presiden George W. Bush Jr. Bagi mereka hanya ada “hitam” dan “putih”, axis of evil yang harus dibinasakan. Pandangan seperti ini, apalagi kalau didasarkan atas pandangan-pandangan Alkitab (yang sempit!) seperti dituliskan oleh Craig Unger, The Fall of the House of Bush, (New York, 2008) sangat berbahaya. Dunia kita akan terbagi dalam dua kubu yang saling bertentangan: putih ( yang “percaya” kepada Tuhan), dan hitam (yang tidak “percaya”). Lalu yang hitam itu harus diputihkan, atau kalau tidak, dibinasakan.
Untunglah bahwa dunia kita tidak juga separah itu. Selalu ada orang-orang yang berpikiran jernih. Kendati orang-orang ini minoritas di dalam jumlah, yang oleh Arnold J.Toynbee (Pendekar Sejarah) disebut,”creative minority” namun telah memberikan sinar pengharapan. Kita sebut misalnya sepucuk surat panjang yang dikirim oleh 138 tokoh Islam sedunia kepada pimpinan gereja-gereja di seluruh dunia. Surat terbuka ini menegaskan, bahwa ada persamaan di antara kami dan kamu. Ada “Common Word” yang seharusnya dihayati bersama. Common Word itu adalah kasih. Surat yang ditulis pada 13 Oktober 2006 itu telah mendapat tanggapan positif dari 300 tokoh-tokoh Kristen di seluruh dunia (lihat buku, Common Word, Halal Books, Australia, 2008). Baru-baru ini kita juga melihat prakarsa Raja Abdullah dari Arab Saudi yang memprakarsai pertemuan-pertemuan di antara tokoh-tokoh Islam dan Kristen (bahkan Yahudi) sedunia. Tentu saja di dunia Kristen pertemuan-pertemuan seperti itu bukan hal baru. Tetapi bahwa prakarsa sekarang diambil oleh Raja Saudi, tentu perlu mendapat perhatian istimewa. Demikian juga, dua minggu lalu diselenggarakan dialog untuk kali pertama antara Katolik dan Islam di Vatikan.
Inikah pengesahan bahwa Tuhan memang sungguh-sungguh baik bagi semua orang? Semoga demikianlah. Tetapi bagi gereja (dan orang-orang Kristen), semua ini mesti ditempatkan di dalam kerangka imannya yang percaya kepada anugerah Allah yang disampaikan kepada semua orang. “Allah menerbitkan matahari-Nya, baik bagi orang baik, maupun bagi orang fasik”, demikian Yesus.
Tentu percakapan-percakapam seperti ini akan mereduksikan (bahkan menghilangkan) rasa kecurigaan di mana-mana sekarang. Hans Kueng seorang teolog Katolik terkenal berkata, bahwa perdamaian sejati di antara umat manusia tidak akan tercapai kalau tidak ada perdamaian di antara para penganut agama-agama yang berbeda itu. Sang Teolog ini bukan sedang bermimpi. Ia mendasarkan pernyataannya atas penelitian sejarah yang saksama. Tidak ada konflik lintas agama yang menguntungkan. Semuanya mengarah kepada kebinasaan bersama.

VII. KGM VIII

KGM ini akan mengarahkan perhatian terhadap berbagai bidang: Gereja dan Teologi; Papua; Pendidikan; Pluralisme; Kesetaraan Gender; SDA & Lingkungan; Politik & Ideologi. Semuanya tentu secara spesifik akan membahas pokok-pokok ini dari titik berangkat masing-masing. Namun semuanya berfokus pada “Kebaikan Allah” yang telah diperlihatkan kepada semua orang. Semua pembahasan ini pada akhirnya akan memperlihatkan bahwa Allah sungguh menyatakan kemurahan-Nya kepada semua makhluk. Itulah Kabar Baik. Itulah Injil. Itulah juga yang ingin diterjemahkan melalui subtema: “Bersama-sama Seluruh Komponen Bangsa, Mewujudkan Masyarakat Majemuk Indonesia Yang Berkeadaban, Inklusif, Adil, Damai dan Demokratis.”
______________
*) Disampaikan Dalam Konferensi Gereja dan Masyarakat VIII PGI, di Grand Jaya Raya Resort & Convention Hotel, Cipayung, Jawa Barat, 17-21 November 2008.
**) Ketua Umum PGI.

Cipayung, 17 November 2008

* Sularso Sopater, “Sambutan MPH-PGI Pada Pembukaan Konferensi Gereja Dan Masyarakat 1998”, dalam J.Garang c.s (eds), Carilah Tuhan, Maka Kamu Akan Hidup, Laporan KGM VII PGI, (Jakarta: Akademi Leimena, 1999), p.xv
** J.Garang, c.s., Carilah Tuhan…, p. Xxiii
*** PGI, Dokumen Keesaan Gereja (DKG), (Jakarta, 2007)
**** DKG, p.55

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: