Andreas A. Yewangoe/ artikel teologi

Artikel Teologi

Andreas A. Yewangoe
I. Apakah Komunikasi? Ketika saya sedang menulis artikel ini saya baru saja mendapat email dari seorang kawan yang menceriterakan mengenai rencana perkunjungan Emha Ainun Najib ke Negeri Belanda.
Emha yang dikenal sebagai seorang penyanyi, penyair, kyai dan aktivitas sosial di Indonesia itu akan membawakan acara kesenian dari tanggal 6 sampai dengan 20 Oktober 2008 atas prakarsa Gereja Protestan di Belanda (Protestantse Kerk in Nederland). Scriba (semacam Sekretaris Umum) PKN Pendeta Arjen Plaisier memberi komentar: “Gereja kita tidak dipanggil untuk memberitakan Islam, tetapi untuk menggalakkan penghormatan satu sama lain dan kejujuran dengan orang yang berbeda iman.” (1) Menurut hemat saya, inilah inti komunikasi, menjalin relasi dengan sesama guna mencapai saling pengertian, dan menghindarkan salah faham. Tidak jarang penilaian kita terhadap seseorang (atau segolongan) hanya didasarkan atas asumsi (yang biasanya keliru), atau stigma-stigma tertentu yang selama ini telah dilekatkan. Atas dasar itu kita membangun citra mengenai orang (atau kelompok) lain itu. Ketika komunikasi yang jujur benar-benar terjalin, ternyata apa yang dibayangkan dan dicitrakan itu sangat berbeda, bahkan berkebalikan 180 derajad.
Secara harfiah, (2) komunikasi berasal dari bahasa Laten: communicare (bhs Belanda: gemeen hebben; bhs Inggris: have in common, mengambil bahagian dalam sesuatu, mengumumkan) Tetapi komunikasi juga bisa diartikan secara lebih khusus, misalnya tersedianya hubungan lalulintas antara satu tempat dan tempat lainnya. “Mengambil bahagian dalam sesuatu” mengandaikan bahwa kita menjadi bahagian dari sesuatu itu, tidak merasa asing di dalamnya, tidak dianggap aneh oleh pihak lainnya. Alhasil, kita bisa mengikuti apa yang sedang terjadi, bahkan merupakan bahagian dari yang sedang terjadi itu. Biasanya para ahli komunikasi mencatat adanya tiga unsur utama di dalam komunikasi: sumber, pesan yang disampaikan, tentu dengan alatnya, dan sasaran yang kepadanya pesan disampaikan. Karena kehidupan manusia tidak sepi dari pesan-pesan, maka dapatlah dikatakan, bahwa komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia. Komunikasi dibutuhkan untuk memecah kesepian dan ketersendirian yang terdapat di dalam manusia. Bayangkanlah apabila seorang tidak mempunyai sasaran untuk mengkomunikasikan apa yang sedang dipikirkannya. Ia akan mengalami stress yang luar biasa. Maka komunikasi adalah bangunan terstruktur di dalam manusia.
Di dalam ilmu psykhologi, komunikasi (antar manusia) dipilih sebagai titik masuk guna meneliti peri-laku manusia, terutama peri-laku masyarakat. Dengan demikian, komunikasi dirumuskan secara umum sebagai: semua perilaku di mana dua atau lebih pribadi-pribadi saling mempengaruhi. Ada juga yang membedakan antara segi-segi pelaporan (raport) dan perintah dari komunikasi. Yang pertama mengacu kepada isi yang bakal disampaikan/diumumkan, sedangkan aspek kedua memberikan arahan bagaimana yang lain itu patut bereaksi terhadap isi (yang disampaikan).
Secara sosiologis komunikasi dilihat sebagai sistem, yang dengan demikian digambarkan dan dianalisis. Di dalam kerangka masyarakat pada umumnya, maka pemahaman ini terutama mengarah kepada pemakaian alat-alat di dalam berkomunikasi dan pengorganisasian dari padanya. Oleh karena makin banyak dan bervariasinya jumlah komunikasi di dalam masyarakat modern, orang cenderung berbicara mengenai sistem-sistem, organisasi, pengaruh, dan sebagainya dari alat komunikasi massa, yang disebut media massa. Memang komunikasi atau minat terhadap komunikasi di dalam sebuah masyarakat modern menjadi sangat besar, yang sering dilihat sebagai peristiwa-peristiwa sosial. Sebagai demikian, maka alat-alat yang punya kaitan dengan komunikasi yaitu bahasa menjadi penting. Pembentukan teori sosiologis yang lebih baru misalnya mengarahkan perhatian kepada pemberian makna. Sebagai struktur dasar dari semua kebersamaan manusia dan motif dari semua kejadian-kejadian historis di dalam dinamikanya yang tidak henti-hentinya. Dengan demikian, saling keterlibatan antara segi-segi komunikasi: sistem dan fenomena telah membawa kita kepada hidupnya kembali orientasi-orientasi teoritis ilmu-ilmu sosial dari masa lampau sebagaimana dilakukan Max Weber (3), G. Simmel., A.Schuetz, dan seterusnya.
Demikianlah sedikit-banyaknya penggambaran teoritis dari komunikasi, yang sebagaimana dikatakan, memang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tidak terkecuali di dalam kehidupan beragama, komunikasi memainkan peranan penting, bahkan sentral. Menyampaikan doa dan permintaan kepada Yang (dianggap) Ilahi, adalah akta komunikasi. Kemampuan berkomunikasi, yang dalam banyak hal disampaikan melalui doa dan akta-akta ritual lainnya dituntut di sini. Tentu saja, dengan sebuah asumsi bahwa Yang Ilahi itu akan membalas seruan yang disampaikan kepada-Nya, sehingga komunikasi yang terjalin adalah komunikasi dua arah.

II. Alkitab dan Komunikasi

Secara substansial dapat dikatakan bahwa Alkitab adalah sebuah buku komunikasi. Menurut pemahaman dogmatika, Allah mengkomunikasikan kehendak-Nya melalui firman yang dibukukan di dalam Alkitab. Dalam banyak pengakuan gereja, Alkitab disebut Firman Allah. Kita tidak akan membahas panjang lebar mengenai hal itu di sini, karena pasti banyak lika-likunya. Yang pasti adalah, bahwa bagaimanapun melalui Alkitab kita dapat menemukan Allah yang berkomunikasi kepada kita. Tentu saja, Alkitab dapat dibahas dari berbagai sudut, dan dengan menerapkan berbagai macam metode. Namun pada kesempatan ini, saya berpegang pada pemahaman Hendrik Kraemer (1888-1965) yang menerapkan cara pemahaman biblical realism (realisme Alkitab).(4) Artinya, dengan melepaskan diri dari berbagai metode-metode panafsiran, kita menekankan kepada realitas dari ceritera-ceritera di dalam Alkitab yang memberi makna bagi kehidupan orang-orang percaya. Itu tidak berarti bahwa cara-cara pandang yang lain tidak mempunyai makna. Namun, bagaimanapun ketika seorang percaya membaca Alkitab, ia dengan segera memperoleh makna dari yang dibacanya itu guna melanjutkan kehidupannya. Itulah yang dimaksud dengan biblical realism itu.
Demikianlah di dalam Alkitab kita bertemu dengan ceritera-ceritera tentang relasi Allah dengan manusia yang begitu harmonis, yang menandakan bahwa Ia melakukan komunikasi langsung dengan manusia. Ada gambaran yang bersifat antropomorfis di dalam kitab Kejadian misalnya, bahwa Allah berjalan-jalan di dalam taman untuk bertemu dengan manusia (Kej. 3:8). Berbeda dengan makhluk-makhluk lain, yang untuk keberadaannya difirmankan oleh Allah: “Berfirmanlah Allah, jadilah terang!”, atau “Berfirmanlah Allah, hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang liar (Kej.1:14), misalnya, tentang manusia Alkitab memberikan pemahaman yang berbeda. Manusia bukan difirmankan, tetapi difirmani. Artinya Allah mengangkat manusia sebagai mitra-Nya untuk berkomunikasi. Berbagai catatan-catatan di dalam Alkitab memperlihatkan kepada kita bagaimana komunikasi itu terjadi. Tentu saja tidak terlalu penting bagi kita sekarang untuk menyelidiki bagaimana persisnya komunikasi itu terjadi, apakah misalnya dengan cara “langsung:” layaknya dua orang yang berkomunikasi secara muka dengan muka (semacam temu wicara), atau adakah dengan cara-cara lain. Di dalam Alkitab kita menemukan cara berkomunikasi Allah dengan menusia melalui mimpi, sebagaimana dialami oleh Yakob di Bet El (Kej.28:10-22). Atau bahkan Allah sendiri “berkunjung” kepada manusia sebagaimana pengalaman Abraham dengan tiga orang tamunya (Kej.18:1-15). Diskusi mengenai hal ini akan memakan waktu yang tidak sedikit, sebagaimana diungkapkan dalam pemahaman tentang Allah yang menyatakan Diri (Revelatio Dei/Deus revelatus) (5) Kita tidak akan membahasnya di sini. Cukuplah kalau dikatakan, bahwa yang menjadi inti di dalam komunikasi Allah dan manusia adalah, bahwa ada pengambilan bahagian di dalam pengetahuan yang dipunyai Allah, kendati pengambilan bahagian itu tidaklah penuh. Artinya melalui komunikasi itulah, kita mengetahui siapakah Allah, dan apa saja yang dikehendakiNya dari manusia. Itulah inti pemberitaan Alkitab tentang Allah yang berkomunikasi.
Tetapi Alkitab yang sama juga berbicara tentang rusaknya komunikasi antara Allah dan manusia. Sudah di dalam kitab Kejadian diceriterakan mengenai dosa yang dilakukan manusia pertama itu. Dalam bentuk ceritera mitologis kita diceriterakan tentang ulah si ular yang memperdaya sang perempuan (Kej. 3:1-24). Lalu menular kepada suaminya, dan seterusnya. Ini berarti bahwa keserasian komunikasi menjadi terganggu, yang secara terus-menerus merupakan ciri utama sepanjang sejarah pergaulan manusia dengan Allah. Komunikasi yang terdistorsi itu secara berulang-ulang dan dengan berbagai cara terjadi. Memang itu tidak berarti, bahwa komunikasi tidak ada. Komunikasi tetap ada, namun sekarang ia berubah karakter. Terdapat kecenderungan komunikasi yang bersifat menuduh dan mendakwa. Sang perempuan menuduh ular, sang suami menuduh istri, yang secara tidak langsung juga menuduh Allah. Allah merespon komunikasi seperti itu dengan mengumumkan pengutukan (Kej.3:9 dstnya).
Sebagai demikian, komunikasi mestinya tidak hanya diartikan sebagai yang membawa perdamaian, tetapi juga membawa kutuk, sebagaimana diungkapkan dalam ceritera kitab Kejadian itu. Namun demikian, ada sisi lain dari komunikasi yang membawa kutuk. Komunikasi itu juga membawa berkat. Inilah rekonsiliasi. Istilah ini berasal dari bahasa Laten, re conciliare, menjadikan lagi satu sesuatu yang tadinya terbelah atau terpisah. Jadi hakekat rekonsiliasi adalah pemulihan dan penyembuhan. Tema ini terus-menerus dikomunikasikan di dalam Alkitab. Allah adalah Allah yang mendamaikan diri-Nya dengan manusia (Rm.5:1). Kendati Israel umat Allah selalu memutuskan komunikasi secara sepihak, Allah selalu setia. Ia menjalin kembali komunikasi dengan umat-Nya. Pemberitaan para nabi-nabi Israel memperlihatkan hal itu. Apa yang diragakan oleh nabi Hosea sangat menarik. Allah memerintahkan Hosea untuk mengawini seorang perempuan sundal dan memperanakkan anak-anak sundal sebagai gambaran Israel yang tidak setia (Hos. 1:2-9). Namun selalu ada janji keselamatan (Hos.1:10-12). Ada sisi penghukuman, tetapi pada saat yang sama ada juga berkat. Ada gunung Ebal, di mana kutuk diucapkan, tetapi juga ada Gerizim, ketika berkat diumumkan (Ul.11:29).
Kitab Perjanjian Baru membuka mata kita mengenai kedalaman makna komunikasi antara Allah dan manusia itu. Yesus Orang Nazaret diyakini sebagai penjelmaan Allah di dalam rupa manusia. Teologi memakai istilah “inkarnasi”, sebuah istilah Laten (Inkarnasi, in carnis = daging). Yohanes mengalimatkannya dengan Firman menjadi manusia (Yoh.1:14, ho Logos sarks egeneto). Artinya Allah memasuki peri kedagingan manusia. Dengan demikian, bukan hanya manusia mengambil bahagian di dalam kehidupan Allah, tetapi Allah juga mengambil bahagian di dalam kehidupan manusia. Allah menjadi satu sejarah dengan manusia, bahkan nasib manusia diambil-alih sebagai nasib-Nya sendiri.(6) Itulah yang jemaat Kristen yakini sebagaimana dilihat di dalam kehidupan dan perbuatan Yesus itu. Di dalam Dia, manusia berkomunikasi dengan Allah, muka dengan muka, hal yang di dalam kebiasaan Israel tidak mudah dilakukan. Kita teringat misalnya akan ceritera Musa yang setelah lama bertemu dengan Allah, wajahnya bersinar-sinar sehingga umat tidak mampu menjalin komunikasi dengannya kecuali mukanya ditutup (Kel. 34:29). Makanya orang Israel sangat tidak berani memandang wajah Allah secara langsung, sebab barang siapa melakukannya akan mati. Di dalam Yesus Kristus, wajah Allah itu bisa dipandang. Itulah hakekat komukasi langsung, yang merobohkan dinding-dinding pembatas. Tembok telah dirubuhkan, maka manusia tidak boleh lagi mendirikannya kembali ketika berhadapan dengan sesamanya manusia.

III. Komunikasi di Antara Manusia

Ketika komunikasi di antara Allah dan manusia dipulihkan, harapannya adalah, bahwa komunikasi di antara sesama manusia juga ikut dipulihkan. Ceritera-ceritera Alkitab Perjanjian Lama penuh dengan hikayat tentang terjalinnya komunikasi di antara sesama itu. Memang pada satu pihak, kita mendapat kesan bahwa Israel ditampilkan sebagai bangsa yang kudus, dan karena itu tidak boleh bercampur-baur dengan bangsa-bangsa sekitarnya. Bahkan di dalam kitab Ezra dan Nehemia ada larangan yang kuat sekali untuk menikah dengan bangsa-bangsa bukan Israel. Tetapi pada pihak lain, kita pun melihat dengan jelas bahwa perkawinan dengan orang di luar Israael boleh-boleh saja. Ceritera yang paling jelas adalah Rut (orang Moab) yang belakangan menikah dengan Jisai, nenek moyang Daud yang menurunkan Yesus Kristus. Di sinilah kita melihat dua wajah dari pemberitaan Alkitab mengenai penjalinan komunikasi dengan bangsa-bangsa lain. Guna memahami ini ada baiknya kita mengetahui latar belakangnya. Dalam ceritera Ezra dan Nehemia, kemurnian darah menjadi sangat penting, sebab umat ini baru saja pulang dari pembuangan yang sangat panjang di Babilonia. Di negeri, yang di dalamnya mereka menjadi tawanan itu, mereka telah dengan tekun memelihara kemurnian itu, sebab hanya dengan begitulah mereka survive. Kalau sekarang mereka kembali ke “tanah perjanjian”, maka kemurnian itu harus terus dipertahankan. Apa lagi mereka curiga terhadap kelompok umat Israel yang tidak ikut tertawan ke Babilonia.
Di dalam ceritera Rut, kita melihat semacam “protes” terhadap ketertutupan dan egoisme bangsa. Bahkan kitab Yunus secara terang-terangan menegaskan bahwa berkat Allah juga bisa diberikan kepada orang non-Israel, dalam hal ini orang Niniveh. Hukuman yang tadinya direncanakan Allah untuk ditimpahkan kepada Niniveh, justru dibatalkan Allah karena melihat perubahan perilaku bangsa ini. Mereka menyatakan pertobatan mereka. Ceritera ini hendak menegaskan, bahwa mestinya terjalin komunikasi yang lebih terbuka antara Israel dengan bangsa-bangsa di sekitarnya. Israel tidak diizinkan untuk mengisolasikan dirinya di dalam ghetto-gheto yang mereka bangun sendiri. Dalam kitab Ulangan kita menemukan perintah untuk tidak menindas seorang asing, sebab merekapun dulu adalah orang asing di Mesir (Kel. 22:21, 23:9; bdk.Ul.10:19). Pengalaman eksistensial Israel dipakai sebagai alasan untuk tidak memperlakukan orang asing dengan sewenang-wenang. Pendeknya Tuhan itu baik pada semua orang (Mzm.145:9).
Dalam pengalaman Yesus Kristus juga peristiwa serupa terjadi. Sebagai seorang Yahudi, tentu Beliau masih juga mempertahankan kekhasan Yahudi. Karena itu ketika seorang perempuan Siro-Fenesia berseru agar anak putrinya yang kerasukan roh jahat disembuhkan, Yesus berkata: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” (Mrk.7:27). Sang perempuan menjawab, benar, tetapi kan ada juga remah-remah yang jatuh di bawah meja dan bisa dimakan anjing. Komunikasi yang tersumbat antara orang Yahudi dan non-Yahudi dipulihkan ketika Yesus bersabda: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu telah keluar dari anakmu.” (7:29). Setan yang menghalang-halangi komunikasi yang sehat antara putri perempuan itu dengan dunia sekitarnya, sekarang diusir. Yesus menempatkan kembali komunikasi pada posisi, fungsi dan peranannya yang benar sebagai yang menguatkan kembali dan memulihkan persekutuan di antara manusia. Yesus juga menabrak kebiasaan yang lazim untuk tidak secara mudah menjalin komunikasi dengan seorang perempuan, apalagi asing sebagaimana nampak dalam kasus perempuan Samaria (Yoh.4:1-42).
Paulus makin mempertegas pemulihan relasi dan komunikasi antara orang-orang Yahudi dan non-Yahudi. Di dalam Kristus tidak ada lagi Yahudi dan Yunani, “sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” (I Kor.12:13). Artinya batas-batas yang tadinya ada, juga batas-batas komunikasi dipecahkan. Maka suasanapun mestinya menjadi lain, tadinya penuh kecurigaan, sekarang menjadi lebih terbuka. “Tembok-tembok telah dirobohkan, akankah dibangun kembali?”

IV. Gereja Adalah Prototipe Komunikasi Yang Dipulihkan

Gereja selalu dilihat sebagai prototipe manusia baru. Ketika Kristus memenangkan pertempuran untuk menciptakan ciptaan baru (lihat kitab Kolose), gereja memikul amanat itu untuk meneruskannya. Maka di dalam gereja sekat-sekat itu dirobohkan. “Aku percaya adanya gereja Kristen yang kudus dan am…” demikian bunyi salah satu artikel dalam Pengakuan Iman Rasuli. Am, artinya umum, terbuka untuk siapa saja. Ini sekaligus mengindikasikan bahwa segala batas-batas telah dihancurkan. Itulah pengakuan di dalam hakekatnya. Tetapi di dalam kenyataannya, tidak selalu demikian. Kasus gereja-gereja di Indonesia yang berasal dari suku-suku memang bisa difahami ditinjau dari segi sejarahnya. Tetapi tetap sulit dimengerti apabila gereja masih belum terbuka untuk keluar dari batas-batas suku itu. Bahkan di luarnegeripun gereja-gereja atas basis suku cukup subur. Ini menjadi pergumulan bersama kita yang tidak habis-habisnya apabila kita sungguh-sungguh ingin membuktikan keprototipean gereja sebagai umat manusia baru. Adalah tantangan gereja-gereja suku untuk membuka komunikasi yang sungguh-sungguh dengan sesama umat di manapun mereka berada.
Mungkin baik juga kita mengadakan introspeksi mengapa akhir-akhir ini umat Kristen kurang disukai oleh lingkungannya, khususnya dengan memperhatikan aksi-aksi penutupan gedung-gedung gereja. Mengapa dulu tidak? Apakah “pihak lain” itu makin agresip? Atau gereja kurang membuka komunikasi dengan lingkungannya? Atau kalau ada komunikasi, itu merupakan komunikasi yang keliru? Kita mendengar keluhan-keluhan bahwa gedung gereja misalnya yang terkesan luks dibangun di tengah-tengah kekumuhan sebuah kampung. Atau “penderitaan” orang-orang berlalulintas, karena mobil yang diparkir di depan gedung gereja menghalang-halangi lalulintas. Mungkin keluhan-keluhan seperti itu berlebih-lebihan. Mungkin juga dicari-cari. Tetapi tetap berharga untuk dipakai sebagai alat introspeksi. Gereja diamanatkan untuk mengabarkan Injil. Ini tugas yang tidak bisa ditawar-tawar. Pekabaran Injil tentu saja mengandaikan adanya komunikasi. Tetapi komuniasi yang jelek tidak akan membuat pekabaran Injil efektif. Bahkan bisa menjadi kontra produktif.
Mengklaim bahwa komunikasi adalah perdamaian sangat tergantung dari cara komunikasi dilancarkan. Juga sangat tergnatung dari apa yang dikomunikasikan. Kalau Kabar Baik dikemukakan dengan cara yang tidak simpatik, ia akan berubah menjadi kabar buruk. Ini merugikan komunitas kemanusiaan.

Jakarta, 28 September 2008

Email dari Jaspert Slob, Pendeta dan Pekerja Sosial PKN di Salatiga, akses tanggal 27 September 2008.
2 Penjelasan mengenai hal ini diambil dari De Grote Oosthoek, vol.5, (Utrecht:Oosthoek’s Uitgeversmaatschapij BV, 1976), ulasan mengenai ‘Communicatie’, pp. 211-212. Dalam ulasan ini dikemukakan juga beberapa buku tentang komunikasi seperti, Bateson and Ruesch, Communication, the Social Matrix of Psychology (1951), Watzlawick enz, De Pragmatische Aspekten van de Menselijke Communicatie (1970), H.J.Prakke, De Samensprak in Onze Samenleving (1957), D.K.Berlo, The Communication Process (1960), J.T.Klapper, The Effects of Mass Media (1961), Nan Lin, The Study of Human Communication (1973).
3 Max Weber, seorang sosiolog agama misalnya berbicara tentang spirit (semangat) yang menguasai kaum Protestan Calvinis di Eropa yang bersumber dari iman mereka akan keterpilihan mereka (predestinasi) sehingga mereka mampu menampilkan diri melalui berbagai kemajuan-kemajuan ekonomi yang dicapainya. Sedikit-banyaknya hal itu difahami sebagai sukses komunikasi yang terjadi di dalam komunitas masyarakat Calvinis itu. (Der Protestantsche Etik und der Geist des Kapitalismus)
4 Mengenai metode berpikir H.Kraemer bisa diperiksa buku-bukunya, antara lain, The Christian Message in a non-Christian World (1938), De Roeping der Kerk (1945), De Nieuwe Koers in de N.H.Kerk (1946), Communicatie, een Tijdsvraag (1957), Religion and Christian Faith (2nd, 1958), World Cultures and World Religions (1963). Juga tulisan tentang dia yang berasal dari, A.Th.van Leeuwen, H,.Kraemer (1959), C.F.Hallencreutz, Kraemer Towards Tambaram (1966). H.Kraemer bekerja di Indonesia sebagai misionaris, sebelum kembali ke Negeri Belanda untuk menjadi Guru Besar Sastra di Leiden (1937).
5 Tentang Allah Yang Menyatakan Diri, banyak sekali buku-buku dogmatika bisa dikonsultasi. Di Indonesia, buku Harun Hadiwijono, Iman Kristen; juga R.Sudarmo, Ikhtisar Dogmatika, keduanya diterbitkan oleh BPK-Gunung Mulia, Jakarta.
6. Di dalam teologi pernah muncul pemahaman yang disebut communicatio idiomatum, sebuah terminologi kristologis yang menjelaskan bahwa sifat-sifat ilahiat dan insani Kristus tunduk kepada prinsip inkarnasi itu. Ini sudah mempunyai sejarah panjang yang tidak perlu diuraikan di sini. Tradisi reformasi misalnya berpendapat, bahwa yang terbatas tidak dapat memuat yang tidak terbatas (finitum non capax infiniti) memandang prinsip itu absyah sebagai suatu pembalikan dari percakapan tetapi tidak sebagai yang melukiskan suatu pemindahan atau pengambilan bahagian dari kualitas-kualitas (ilahi atau insani). Lihat H.E.W.Turner, ‘Communicatio Idiomatum’, dalam Alan Richardson & John Bowden, A New Dictionary of Christian Theology, (London: SCM Press, 1987), p. 113.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: