Archive for March, 2009

Andreas A. Yewangoe/PGI

March 16, 2009

Artikel Teologi

Andreas A. Yewangoe
Konperensi Gereja Dan Masyarakat VIII PGI
I. Konperensi Gereja Dan Masyarakat II di Era Reformasi

Konperensi Gereja Dan Masyarakat VIII PGI ini adalah yang kedua diselenggarakan di dalam era Reformasi. Yang pertama dilaksanakan pada 29 September – 4 Oktober 1998 dengan tema: “Carilah Tuhan, Maka Kamu Akan Hidup”, dan subtema: “Panggilan Kita Untuk Bersama-sama Mengatasi Krisis Masyarakat Dan Bangsa.” Pada waktu itu kita baru saja mengalami masa transisi ketika Orde Baru di bawah Presiden Suharto mengakhiri masa pemerintahannya selama 32 tahun. Maka reformasi dimaknai secara positif sebagai menjalankan perubahan dan pembaruan untuk mencapai kebaikan. Reformasi, dengan demikian dilihat secara konstruktif, bukan destruktif. Bahkan reformasi adalah upaya re-humanisasi (pemanusiaan ulang), yaitu tatkala hak-hak asasinya dihormati, kebebasan berpikir dan berkarya difungsikan ulang, sendi-sendi dasar demokrasi dikembalikan, kekuasaan-kekuasaan yang memenjarakan manusia dibatasi, struktur-struktur yang menindas diubah dan diperbaiki.*
Tema yang dipilih pada waktu itu, yang sekaligus merupakan tema Sidang Raya PGI di Palangka Raya (2000) hendak menegaskan, bahwa ada kait-mengait antara “mencari Tuhan” dengan “hidup”. Artinya kehidupan sejati hanya bisa terjadi apabila kita mencari Tuhan. Maka orientasi kita harus terarah kepada Tuhan. Konsekwensinya bagi gereja-gereja adalah, gereja-gereja harus bertobat. Sedangkan subtema memperlihatkan adanya sense of urgency, sense of crisis di berbagai bidang (ekonomi, lingkungan hidup, pendidikan, iptek, dan seterusnya) yang saling kait-mengait.** Pendeknya, para “pejuang” reformasi menghendaki diwujudkannya suatu civil society (masyarakat berkeadaban), suatu masyarakat yang tidak terabsorbir ke dalam kemahakuasaan negara, tetapi yang benar-benar memperlihatkan kedewasaan di dalam menegakkan hukum yang berkeadilan, hak-hak asasi manusia, juga untuk hidup layak, demokrasi, dan seterusnya.
Setelah 10 tahun reformasi, dan penyelenggaraan KGM VII, sekarang kita melaksanakan KGM VIII. Maka inilah saat yang tepat untuk kita mengevaluasi berbagai “perkembangan-perkembangan” yang dicapai di dalam era ini. Capaian-capaian apakah yang dihasilkan? Benarkah kita makin memanusia (re-humanisasi), atau sebaliknya kita sedang mengalami de-humanisasi? Benarkah kita telah keluar dari berbagai krisis, sehingga penyelenggaraan KGM VIII ini misalnya tidak perlu lagi mencantumkan sense of urgency dan sense of crisis sebagai pemicu? Benarkah perjuangan menegakkan civil society (masyarakat berkeadaban) sedang berlangsung, atau kita sedang menuju kepada keruntuhan peradaban?
Sidang Raya XIV PGI yang diselenggarakan di Kinasih-Bogor (2004) merumuskan subtemanya: “Besama-sama Dengan Seluruh Elemen Bangsa Mewujudkan Masyarakat Sipil Yang Kuat Dan Demokratis Untuk Menegakkan Kebenaran, Hukum Yang Berkeadilan, Serta Memelihara Perdamaian.” Di dalam subtema ini yang kemudian dijabarkan di dalam “Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama” (PTPB) terkandung harapan-harapan, bahwa sebuah civil society yang kuat akan terwujud.*** Tetapi kita juga menyadari bahwa masyarakat berkeadaban itu belum nyata, atau setidak-tidaknya kita masih berada dalam proses menjadi. Proses demokratisasi berlangsung, kendati sering kita memahaminya hanya sebagai kemampuan mayoritas mempengaruhi keputusan-keputusan dengan suara terbanyak, dan belum menukik kepada nilai-nilai yang menyertai proses itu seperti penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, kemampuan untuk berbeda pendapat, dan seterusnya. KKN diperangi, tetapi juga korupsi berjamaah makin marak. Berbagai upaya-upaya untuk memperlihatkan keunggulan di bidang ekonomi dilakukan, tetapi kemiskinan juga makin memperlihatkan wajahnya yang mengerikan. Dan seterusnya. Di bidang kehidupan keberagamaan kita makin saleh, tetapi tidak mampu melihat dan menerima perbedaan-perbedaan pandangan. Kita mengklaim Allah seakan-akan hanya berpihak kepada kita. Kita minta Allah untuk hanya membenarkan apa yang kita lakukan, dan penolakan kita terhadap pihak lain, kita juga tuntut agar Allah melakukannya.
Dalam keadaan masyarakat dan bangsa kita yang seperti ini, kita menyelenggarakan KGM dengan tema, “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang” (Maz. 145:9b). Tema ini sekaligus akan menjadi tema Sidang Raya XV PGI di Mamasa-Sulawesi Barat pada tahun 2009 nanti.

II. Retrospeksi Tema SR XIV PGI

SR XIV PGI merumuskan temanya, “Berubahlah Oleh Pembaruan Budimu…”, yang diambil dari Roma 12:2b. Intinya adalah bahwa budi (nous) lah yang pertama-tama mengalami pembaruan, sehingga memungkinkan adanya perubahan. Pembaruan itu dilakukan oleh Roh Kudus. Hanya dengan pembaruan budi yang membawa perubahan, maka tercipta kemungkinan bagi adanya perubahan dan transformasi di bidang-bidang lainnya. Perubahan dan transformasi di dalam lingkungan gereja misalnya tidak dapat terjadi apabila budi tidak diterangi oleh Roh Kudus. Perubahan dan transformasi di dalam masyarakat pun demikian. Tidaklah cukup dengan menciptakan sekian bnayak aturan-aturan, UU, hukum apabila di dalam diri (yang terdalam dari manusia) tidak terjadi perubahan-perubahan.
Pertanyaannya adalah, apakah selama ini telah terjadi perubahan-perubahan? Tentu saja tidak mudah kita mengukurnya. Apalagi kita masih harus menciptakan alat untuk melakukan pengukuran itu. Tetapi setidak-tidaknya ada indikasi-indikasi yang bisa diacu bahwa kita memang sedang begerak ke depan.Di dalam gereja-gereja kita perubahan-perubahan macam manakah yang sedang terjadi? Kita mengakui bahwa di dalam kebanyakan gereja-gereja ada pertambahan jumlah anggota, baik secara alamiah maupun dengan cara-cara lain, seperti baptisan baru misalnya. Alhasil, gedung-gedung gereja yang ada dianggap kecil, dan karena itu dirasa perlu untuk membangun yang baru. Ini tidak selalu mudah direalisasikan di daerah-daerah tertentu seperti di Jawa Barat dan Banten. Ada juga gereja-gereja yang makin memberikan perhatian kepada yang berada dalam kesulitan-kesulitan dengan melipatgandakan anggaran belanjanya di bidang diakonia. Inilah suatu diakonia kharitatif, yang kendati perlu namun masih harus dilanjutkan dengan diakonia transformatif. Dan seterusnya. Pada pihak lain, kita masih mengalami kesulitan dengan persoalan kesatuan gereja-gereja sendiri. Apa persisnya yang kita maksudkan dengan kesatuan gereja? Apakah kesatuan diusahakan agar dunia percaya, atau agar dunia “yakin” bahwa kita ada? Yang disebut terakhir ini kadang-kadang tercampur-baur dengan pemahaman politik praktis. Visi mengenai keberadaan di dalam sebuah masyarakat majemuk misalnya tidak selalu sama. Ada yang melihat kehadiran gereja sebagai ada bersama masyarakat, solider dengan nasib masyarakat di mana gereja berada, sebuah presensia di dalamnya. Tetapi ada juga yang melihatnya sebagai semacam “penaklukan” terhadap masyarakat yang belum mengenal Kristus. “Menangkan Indonesia Bagi Kristus”, misalnya adalah salah satu slogan yang mengindikasikan, bahwa yang dimaksud dengan transformasi adalah setidak-tidaknya menjadikan Indonesia mengenal Kristus dalam pengertian “konvensional”. Maka tidak heran, kalau pemahaman macam ini lalu memarakkan isu kristenisasi di negeri ini. Maraknya penutupan gedung-gedung gereja secara paksa antara lain disebabkan oleh isu ini. Keberadaan gedung-gedung gereja tersebut dilihat sebagai strategi bagi kristenisasi itu.
Apakah semua itu adalah indikasi perubahan oleh pembaruan budi? Sidang Raya XIV memang memperkenalkan slogan, “Gereja Bagi Orang Lain”. Yang dimaksud adalah gereja yang terbuka, yang bersolider dengan nasib bangsa, yang tidak serta merta mengungkapkan diri sebagai ecclesia triumphant (gereja yang menang!), melainkan ecclesia servant (gereja yang melayani). Tentu tidak mudah merealisasikan ini, apalagi di tengah berbagai tekanan-tekanan yang diarahkan kepada gereja-gereja sekarang ini. Bahkan maksud baikpun bisa diinterpretasi sebagai mempunyai maksud-maksud sampingan. Namun semua itu tidak boleh menyurutkan tujuan gereja untuk melayani masyarakatnya. Tujuan bergereja adalah untuk melayani. Berusaha agar dunia yang kita tempati layak didiami. Itulah makna gerakan oikoumene, agar oikos (rumah) kita sungguh-sungguh menjadi rumah bagi semua.

III. Retrospeksi Subtema SR XIV PGI 2004

Subtema itu berbunyi: “Bersama-sama Dengan Seluruh Elemen Bangsa Mewujudkan Masyarakat Sipil Yang Kuat Dan Demokratis Untuk Menegakkan Kebenaran, Hukum Yang Berkeadilan, Serta Memelihara Perdamaian.” PTPB 2004-2009 menegaskan bahwa apabila kita sungguh-sungguh hendak melayani Kristus dan meneruskan Injil-Nya kepada bangsa ini, maka kita harus memberi perhatian serius terhadap persoalan-persoalan di atas.**** Apakah masyarakat berkeadaban yang kuat dan demokratis telah terwujud? Kita telah mensinyalir sebelumnya, bahwa proses berdemokrasi memang sedang berjalan di negeri kita. Namun tidak semua kita mempunyai pemahaman yang sama terhadap proses itu. Indonesia memang merupakan negara demokrasi ketiga terbesar sesudah Amerika Serikat dan India, tetapi hal itu baru terlihat di dalam pemilu-pemilu. Perilaku dan keadaban demokratis, seperti misalnya mengakui kemenangan orang lain dan mengakui kekalahan sendiri secara ksatria masih sangat jauh. Berbagai kekacauan di daerah-daerah setelah berlangsungnya pilkada adalah indikator bahwa kita masih belum memahami nilai-nilai demokrasi yang berada di dalamnya, bahwa demokrasi adalah pula perwujudan dari keberadaban. Kalau kita berbicara mengenai kebenaran, adakah kebenaran yang obyektif? Kita cenderung berbicara tentang kebenaran menurut versi tertentu. Adakah ukuran-ukuran untuk itu? Tidak mudah.
Hukum yang berkeadilan. Adakah hukum yang tidak berkeadilan? Tentu saja ada, yaitu ketika hukum-hukum diciptakan bagi interesa kekuasaan, dan atau kepentingan golongan tertentu, dan bukan bagi kesejahteraan bangsa. Kasus perda-perda bersyariat di daerah-daerah misalnya, adalah contoh. UU Anti Pornografi yang kontroversial itu adalah contoh telanjang di mana, bukan kepentingan seluruh bangsa yang diprihatinkan, melainkan kepentingan-kepentingan tertentu. Di sini juga terlihat dengan jelas ketidakmampuan kita melihat dan menghormati kemajemukan. Maka tidak heran mereka yang berpendapat lain, atau mempunyai pandangan lain dianggap sebagai musuh yang harus ditaklukkan seperti dalam kasus Ahmadiyah. Memelihara perdamaian adalah pula tugas lain yang tidak mudah diwujudkan ketika kecenderungan ketidakadilan marak di mana-mana. Bagaimana mungkin perdamaian dipelihara apabila rakyat Papua belum diberikan hak-hak mereka sebagaimana ditetapkan di dalam UU Otsus? Bagaimana mungkin perdamaian bisa dipelihara, apabila sebagian besar masyarakat masih miskin, sementara sebagian kecil sangat kaya? Perdamaian tidak bisa dipelihara apabila sebagian besar penduduk masih belum mempunyai akses yang cukup ke pendidikan dan kesehatan. Jelaslah bahwa memelihara perdamaian mempunyai sangkut-paut erat dengan perwujudan keadilan di segala bidang. Pemeliharaan perdamaian juga sangat berkaitan dengan rasa kebangsaan. Kebangsaan sejati adalah, ketika setiap orang merasa terikat secara emosional dengan bangsa ini, bukan karena dipaksa-paksakan dengan kekuatan senjata.

IV. Tema KGM VIII (SR XV PGI) Adalah Lanjutan Dari Tema SR XIV

“Tuhan itu baik kepada semua orang”, adalah akar guna memahami, bahwa gereja ada bagi orang lain. Yesus Kristus, demikian dikatakan dalam PTPB 2004 adalah “Manusia Bagi Orang Lain”. “Orang lain”, atau “semua orang” adalah siapa saja yang hidup dan bertetangga dengan kita, yang sama-sama menghirup udara yang sama, meminum air yang sama, yang menikmati matahari pagi yang sama, dan seterusnya. Di dalam interaksi kita dengan sesama pemahaman ini mencakupi semua bidang kehidupan. Tetapi di Indonesia, relasi antar-umat beragama masih merupakan persoalan akut. Relasi antar-umat beragama sering bisa sangat sensitif. Menyadari hal itu, maka Sidang Raya XIV secara khusus merumuskan sifat relasi itu di dalam PTPB 2004-2009 Bab VIII sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah menciptakan manusia menurut gambar dan citra-Nya (bnd. Kej.1:26). Allah adalah Allah bangsa-bangsa (bnd. Mazm. 47:9-10). Ia tidak saja mengasihi Israel, tetapi juga Edom, Mesir, dan seterusnya. Yesus Kristus memerintahkan agar kita mengasihi sesama sama seperti diri kita sendiri (band.Mt.22:39). Itulah hakekat inkarnasi Ilahi di dalam Yesus Kristus yang adalah Manusia Bagi Orang Lain. Atas dasar ini, maka kita menjalin relasi dengan sesama tapa memandang suku, ras, dan golongan.”
Rumusan ini sekaligus menegaskan bahwa dasar kita menjalin relasi dengan orang lain, bukan sekadar sesuatu yang praktis saja, melainkan alkitabiah. Allah memang adalah Allah Israel, tetapi Israel tidak dapat mengklaimnya sebagai Allah suku. Ia adalah Allah yang bebas, yang mengasihi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maka tidak ada alasan bagi Israel untuk merasa diri lebih hebat dari bangsa-bangsa lainnya. Bahkan kepada Israel diperintahkan untuk juga mengasihi bangsa-bangsa lain, sebagaimana misalnya terungkap dalam kisah Yunus. Di dalam Perjanjian Lama kita membaca bahwa bangsa-bangsa lain mempunyai “andil” di dalam pembentukan bangsa itu, sebagaimana diungkapkan di dalam ceritera Rut. Yesus Kristus yang menurut tradisi Injil-Injil bernenekmoyangkan “orang asing”, diyakini bukan saja sebagai Mesias Israel (kendati mereka tidak mengakuinya!), tetapi Juruselamat manusia. “Manusia Bagi Orang Lain”, berarti, Ia terbuka untuk dimasuki oleh berbagai persoalan-persoalan bangsa-bangsa lain itu.
Berbagai peristiwa-peristiwa di Tanah Air yang cenderung saling mengklaim Allah sebagai allahnya sendiri, baik di dalam kekristenan maupun di dalam agama-agama lainnya akan menghentarkan masyarakat kita kepada sikap-sikap fanatisme yang tidak perlu. Demikian juga, bisa saja diterapkan sikap kekudusan semu yang lalu menganggap keberadaan “pihak lain” sebagai mengganggu kekudusan itu. Dalam pemahaman teologi Kristen kita percaya bahwa justru Allah “mencemarkan” diri-Nya guna menyelamatkan mereka yang tercemar itu. Sikap menjadi “Manusia Bagi Orang Lain” merupakan amanat yang mesti diteruskan oleh gereja, sehingga dengan demikian gereja tidak menjadi arogan menghadapi pihak-pihak lainnya.

V. “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang…”

Kalimat ini diambil dari penggalan Mazmur 145. Inilah sebuah mazmur puji-pujian yang diklaim berasal dari Daud. Intinya adalah, Daud hendak mengagungkan kemurahan Tuhan yang telah dialaminya selama ini. Secara struktural Mazmur ini terdiri atas: a. pembukaan puji-pujian (1-4); b. perayaan dan peringatan terhadap perbuatan-perbuatan Allah yang baik (5-9); puji-pujian terhadap Allah sebagai Raja, Penopang alam-semesta, dan Juruselamat (10-20); d. Kesimpulan (21).
Kita melihat bagaimana kemuliaan dan kebesaran Tuhan diagungkan. Kemuliaan dan kebesaran itu nampak dalam berbagai perbuatan-perbuatanNya dan yang disaksikan oleh manusia dari angkatan ke angkatan. Itulah pula alasannya mengapa manusia, dari angkatan yang satu ke angkatan yang lainnya memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Dalam ayat 8-13 kita melihat penekanan kepada sifat Allah yang mengasihi dan menyayangi. Keagungan dan kemuliaan-Nya tidak bertindih-tepat dengan kekuasaan yang sewenang-wenang (potentia absoluta), tetapi dengan kemurahan-Nya (potentia ordinata). Bahkan Ia sabar dan besar kasih setia-Nya. Kalau manusia membicarakan keperkasaan-Nya, bukan dalam arti kesewenang-wenangan itu, tetapi dalam arti kemurahan-Nya. Tuhan bahkan setia dalam segala perkataan-Nya, dan penuh kasih-setia dalam segala perbuatan-Nya. Dalam beberapa bagian dari ayat-ayat 14-20 lebih jelas lagi kita melihat sifat Allah ini yang tidak membiarkan yang lemah jatuh oleh kelemahannya. Bahkan Ia merupakan Penopang bagi semua orang yang jatuh, dan Penegak bagi semua orang yang tertunduk. Ia digambarkan sebagai Yang memberi makan mereka pada waktunya. Dalam ayat 20 memang secara jelas dikemukakan mengenai “imbalan” yang dikehendaki Allah, yaitu, “Tuhan menjaga semua orang yang mengasihi-Nya, tetapi semua orang fasik akan dibinasakan-Nya.” Ini berarti bahwa tawaran pengasihan Allah tidak bisa hanya bersifat sepihak. Tawaran harus direspons, sehingga dengan demikian ia mempunyai makna. Anugerah bukan anugerah yang murah, kata Dietrich Bonhoeffer. Ia adalah anugerah yang ditandai dengan pengorbanan.
Ayat tema ini berada di dalam bagian kedua Mazmur ini yang mengajak untuk merayakan perbuatan-perbuatan Allah yang baik. “Tuhan itu baik kepada semua orang dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (ay.9). Menarik bahwa ayat ini didahului oleh ayat 8 yang menegaskan Tuhan sebagai Pengasih dan Penyayang, panjang sabar dan besar kasih-setia-Nya. Rahmani dan rahimi. Pemahaman seperti ini sangat jelas juga di dalam Islam. Setiap orang Muslim selalu mengucapkan kerahmanian dan kerahiman Allah di dalam melakukan segala sesuatu. Inti ajaran Kristus adalah Allah yang mengasihi. Bahkan Kristus lebih jauh lagi menerapkan ajaran kasih, yaitu bahwa musuh pun harus dikasihi dan berdoa bagi mereka.
Siapakah yang dimaksud dengan “semua orang” di sini? Itulah orang-orang yang berada di luar Israel. Kalau kita memperhatikan makna pemilihan Israel sebagai umat terpilih, yang dikuduskan, diasingkan bagi Tuhan, kadang-kadang kita terkejut bahwa berkat juga disediakan bagi mereka yang berada di luar lingkaran itu. Tetapi sesungguhnya jelas bahwa makna pemilihan itu sendiri tidak untuk diri mereka saja. Gerard von Rad, seorang ahli Studi Perjanjian Lama misalnya menegaskan, bahwa pemilihan itu adalah untuk pelayanan (election for service). Melalui pemilihan Abraham (yang belakangan dikenal sebagai “Bapa Orang-orang Beriman”), semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kej.11:3). Pembentukan (atau lebih tepat: penciptaan) Israel sebagai bangsa (sebagaimana secara luas dikisahkan dalam kitab Keluaran), tidak menempatkan mereka sebagai bangsa yang eksklusip, tetapi justru sebagai yang membuka diri terhadap bangsa-bangsa di sekitarnya. “Tuhan itu baik pada semua orang..” Penggalan kedua dari ayat ini mengacu kepada “rahmat”, suatu istilah Arab yang diindonesiakan yang mempunyai sangkut-paut dengan kata-kata rahmani dan rahimi. Rahim mengacu kepada rahim sebagai tempat “asal-usul” manusia, tempat dimulainya kehidupan, tempat dipeliharanya kehidupan. Itulah yang diperlihatkan Allah terhadap segala yang dijadikan-Nya. Segala yang dijadikan mengacu kepada seluruh ciptaan, bukan hanya manusia. Seluruh ciptaan inilah yang merupakan sasaran rahmat Allah. Kalau kita berpegang kepada pandangan ini, maka sangatlah jelas dasar keprihatinan kita kepada keutuhan ciptaan sebagai yang mempunyai dasar kuat di sini.
Semua yang diuraikan mengenai Israel dan sikapnya terhadap bangsa-bangsa sekitar memperoleh aktualisasi di dalam peristiwa Kristus. Di dalam Dia dan seluruh perbuatan-perbuatanNya seluruh umat manusia diberkati. Paulus menegaskan: “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” (Rm.10:12).

VI. Di dalam Kenyataannya

Bahwa Tuhan itu baik bagi semua orang, rasanya tidak ada yang menolaknya. Namun di dalam kenyatannya tidak selalu demikian. Berbagai ketegangan-ketegangan, bahkan konflik-konflik (berdarah) yang mengatasnamakan agama telah memakan korban begitu besar. Di dalam sejarah kita mengenal pertempuran-pertempuran atas nama Tuhan (lihat mislanya buku Karen Armstrong, Perang Tuhan), di mana secara jelas Tuhan diklaim berada di pihak masing-masing. Perang-perang salib yang dilancarkan di dalam abad-abad pertengahan masih menimbulkan perasaan traumatis yang tidak habis-habisnya hingga kini. Ketika peristiwa 11 September 2001 terjadi, dunia Islam goncang ketika Presiden George W. Bush Jr. mempergunakan istilah crusade, istilah yang mengingatkan kepada perang-perang salib. Apakah umat manusia akan terjatuh lagi ke dalam kancah perang atas nama Tuhan ini? Rasanya kita tidak menghendaki ini. Kita telah merasakan akibatnya yang pahit ketika terjadi konflik-konflik berdarah bernuansa agama di Maluku, Maluku Utara dan Poso.
Pada aras dunia telah terjadi aksi-reaksi. Tuduhan kepada pemerintah Amerika Serikat yang telah menerapkan kebijakan yang tidak adil (global injustice) di bidang ekonomi, dan berdampak ke bidang-bidang lainnya, diungkapkan melalui aksi-aksi teror di mana-mana. Siapakah teroris sesungguhnya lalu menjadi pertanyaan menarik. Di mata Amerika Serikat kelompok-kelompok ekstrim di dunia Islam adalah teroris, sedangkan bagi kelompok ini, justru Amerika yang teroris. Tidak dapat disangkal bahwa di Amerika memang muncul sikap fundamentalisme di dalam beragama yang dikenal sebagai neo-fundamentalism. Mantan Presiden Jimmy Carter mensinyalir itu di dalam bukunya berjudul, Our Endangered Values. Menurut dia, nilai-nilai yang disebarkan oleh Amerika yang diwarnai oleh neo-fundamentalisme ke seluruh dunia sangat berbahaya justru bagi keamanan dunia apabila aspek keadilan tidak diperhatikan. Menurut Carter, justru orang-orang seperti inilah yang berada di Gedung Putih sekarang yang mengelilingi Si Pengambil Keputusan, Presiden George W. Bush Jr. Bagi mereka hanya ada “hitam” dan “putih”, axis of evil yang harus dibinasakan. Pandangan seperti ini, apalagi kalau didasarkan atas pandangan-pandangan Alkitab (yang sempit!) seperti dituliskan oleh Craig Unger, The Fall of the House of Bush, (New York, 2008) sangat berbahaya. Dunia kita akan terbagi dalam dua kubu yang saling bertentangan: putih ( yang “percaya” kepada Tuhan), dan hitam (yang tidak “percaya”). Lalu yang hitam itu harus diputihkan, atau kalau tidak, dibinasakan.
Untunglah bahwa dunia kita tidak juga separah itu. Selalu ada orang-orang yang berpikiran jernih. Kendati orang-orang ini minoritas di dalam jumlah, yang oleh Arnold J.Toynbee (Pendekar Sejarah) disebut,”creative minority” namun telah memberikan sinar pengharapan. Kita sebut misalnya sepucuk surat panjang yang dikirim oleh 138 tokoh Islam sedunia kepada pimpinan gereja-gereja di seluruh dunia. Surat terbuka ini menegaskan, bahwa ada persamaan di antara kami dan kamu. Ada “Common Word” yang seharusnya dihayati bersama. Common Word itu adalah kasih. Surat yang ditulis pada 13 Oktober 2006 itu telah mendapat tanggapan positif dari 300 tokoh-tokoh Kristen di seluruh dunia (lihat buku, Common Word, Halal Books, Australia, 2008). Baru-baru ini kita juga melihat prakarsa Raja Abdullah dari Arab Saudi yang memprakarsai pertemuan-pertemuan di antara tokoh-tokoh Islam dan Kristen (bahkan Yahudi) sedunia. Tentu saja di dunia Kristen pertemuan-pertemuan seperti itu bukan hal baru. Tetapi bahwa prakarsa sekarang diambil oleh Raja Saudi, tentu perlu mendapat perhatian istimewa. Demikian juga, dua minggu lalu diselenggarakan dialog untuk kali pertama antara Katolik dan Islam di Vatikan.
Inikah pengesahan bahwa Tuhan memang sungguh-sungguh baik bagi semua orang? Semoga demikianlah. Tetapi bagi gereja (dan orang-orang Kristen), semua ini mesti ditempatkan di dalam kerangka imannya yang percaya kepada anugerah Allah yang disampaikan kepada semua orang. “Allah menerbitkan matahari-Nya, baik bagi orang baik, maupun bagi orang fasik”, demikian Yesus.
Tentu percakapan-percakapam seperti ini akan mereduksikan (bahkan menghilangkan) rasa kecurigaan di mana-mana sekarang. Hans Kueng seorang teolog Katolik terkenal berkata, bahwa perdamaian sejati di antara umat manusia tidak akan tercapai kalau tidak ada perdamaian di antara para penganut agama-agama yang berbeda itu. Sang Teolog ini bukan sedang bermimpi. Ia mendasarkan pernyataannya atas penelitian sejarah yang saksama. Tidak ada konflik lintas agama yang menguntungkan. Semuanya mengarah kepada kebinasaan bersama.

VII. KGM VIII

KGM ini akan mengarahkan perhatian terhadap berbagai bidang: Gereja dan Teologi; Papua; Pendidikan; Pluralisme; Kesetaraan Gender; SDA & Lingkungan; Politik & Ideologi. Semuanya tentu secara spesifik akan membahas pokok-pokok ini dari titik berangkat masing-masing. Namun semuanya berfokus pada “Kebaikan Allah” yang telah diperlihatkan kepada semua orang. Semua pembahasan ini pada akhirnya akan memperlihatkan bahwa Allah sungguh menyatakan kemurahan-Nya kepada semua makhluk. Itulah Kabar Baik. Itulah Injil. Itulah juga yang ingin diterjemahkan melalui subtema: “Bersama-sama Seluruh Komponen Bangsa, Mewujudkan Masyarakat Majemuk Indonesia Yang Berkeadaban, Inklusif, Adil, Damai dan Demokratis.”
______________
*) Disampaikan Dalam Konferensi Gereja dan Masyarakat VIII PGI, di Grand Jaya Raya Resort & Convention Hotel, Cipayung, Jawa Barat, 17-21 November 2008.
**) Ketua Umum PGI.

Cipayung, 17 November 2008

* Sularso Sopater, “Sambutan MPH-PGI Pada Pembukaan Konferensi Gereja Dan Masyarakat 1998”, dalam J.Garang c.s (eds), Carilah Tuhan, Maka Kamu Akan Hidup, Laporan KGM VII PGI, (Jakarta: Akademi Leimena, 1999), p.xv
** J.Garang, c.s., Carilah Tuhan…, p. Xxiii
*** PGI, Dokumen Keesaan Gereja (DKG), (Jakarta, 2007)
**** DKG, p.55

Advertisements

Pdt. Mangapul Sagala. Th.D.

March 16, 2009

Artikel Teologi

Bagaimana Berteologi?
Oleh Pdt Mangapul Sagala

Dua minggu yang lalu, diadakan sebuah pembinaan di sebuah Gereja di wilayah Cinere. Sebenarnya, Gereja tersebut sudah rutin mengadakan pembinaan bagi warga jemaat yang disebut dengan PTJ (Pendidikan Teologi Jemaat). Itulah sebabnya, anggota jemaat yang memang rindu untuk dibina biasanya menyambut PTJ dengan sukacita dan penuh semangat.
Namun kelihatannya, PTJ pada saat itu lain dari biasanya. Beberapa anggota jemaat kurang bersemangat dan cemas menyambutnya. Mengapa? Menurut pesan singkat (sms) yang diterima oleh istri saya, seorang anggota jemaat mengatakan keheranannya dengan pembicara yang diundang. “Masak sih orang tersebut diundang di Gereja? Bukankah dia telah membingungkan jemaat dengan artikelnya yang dia tulis pada sebuah media pada waktu yang lalu?” demikian bunyi pesan singkat tersebut.
Saya mengerti kebingungan yang ditunjukkan oleh orang-orang tersebut. Jujur saja, saya juga heran dan mempertanyakan motivasi mengundang pembicara tersebut. Mengapa? Karena lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya telah mengenal orang itu sebagai seorang penulis dan pembicara yang cukup provokatif. Hal yang sama ditegaskannya ketika beberapa kali berkomunikasi dengan saya melalui surat elektronik (email). Orang tersebut seringkali mengatakan atau menuliskan pandangan yang bertentangan dengan apa yang telah lazim diyakini oleh jemaat, yang juga berbeda dengan pernyataan Alkitab itu sendiri. Karena itu, artikel-artikel yang dikirimnya atau yang dikirim oleh para pengagumnya ke berbagai groups atau mailing lists seringkali ditanggapi dengan pro-kontra.
Demikian juga, artikel yang ditulisnya dua bulan yang lalu di sebuah media nasional telah membingungkan banyak orang, khususnya yang belum mengenalnya secara pribadi. Bagaimana tidak? Salah satu pengakuan iman Gereja yang paling mendasar adalah tentang kebangkitan Yesus dari kubur. Hal itulah yang diikrarkan oleh jemaat setiap hari Minggu. Namun demikian, dalam sebuah tulisannya pada media tsb di atas, orang tersebut menegaskan hal yang berbeda: tulang belulang Yesus ditemukan di Talpiot; kebangkitan Yesus merupakan metafora, kiasan, “bukan kejadian sejarah objektif” (Baca, Kompas, 5 April 2007).

Membangunkan atau Membingungkan?
Kembali kepada pembinaan di atas. Rupanya, bukan saja pembicaranya yang mengundang tanya. Tema yang diberikan juga demikian: Injil Yudas. Apa tujuannya memberikan tema tersebut kepada jemaat? Menurut seorang majelis, tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Injil Yudas itu menyesatkan. Injil Yudas tersebut tidak boleh disejajarkan dengan keempat Injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Dengan demikian, jemaat diharapkan semakin menghargai dan mencintai Alkitab.Lalu, bagaimana hasilnya? Nah, di sinilah masalahnya. Sebagaimana telah saya duga sebelumnya, dalam pembinaan, pembicara telah mengatakan kalimat-kalimat yang biasa disebut oleh teolog-teolog liberal, tapi tidak biasa didengar jemaat. Dia juga menegaskan kemungkinan melakukan rekanonisasi Alkitab. Maksudnya, menambah atau mengurangi kitab-kitab dalam Alkitab (66 kitab yang terdiri dari 39 PL + 27 PB).
Dalam makalah yang diberikan, pembicara dengan tegas mengatakan kesalahan penulis-penulis Alkitab, seperti Lukas dan Yohanes memperlakukan Yudas. Menurut pembicara, penulis-penulis Injil telah mendiskreditkan Yudas sebagai penghianat; padahal bukan. Sehubungan dengan itu, ketika Lukas menulis kisah Iblis yang memasuki Yudas (Lukas 22:3), kelihatannya, pembicara mencoba membela Yudas dan menyalahkan Lukas. Itulah sebabnya, dia menulis: “Gambaran Yudas yang dirasuk Iblis dengan demikian adalah gambaran yang sangat menghancurkan Yudas” (halaman 5).
Selanjutnya, ketika tiba kepada Injil Yohanes, dia menulis: “Di dalam Injil Yohanes, pendiskreditan atas Yudas terjadi menyeluruh. Yudas adalah Iblis…” (halaman 6).
Selanjutnya, pembicara menegaskan bahwa untuk itulah Injil Yudas ditulis, yaitu untuk meluruskan pengajaran yang salah tersebut. “Dalam Injil Yudas, perbuatan penyerahan diri Yesus itu dipuji, dan Yudas menjadi seorang hero…” (halaman 10).
Dengan pernyataan-pernyataan tersebut di atas, tentu saja, pembinaan jemaat yang diharapkan membangunkan iman jemaat, dalam kenyataannya, tidak demikian. Jemaat malah dibingungkan.
Hal itu tampak jelas dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan. Misalnya, seorang bertanya: “Jika Injil Yudas adalah seperti yang bapak sampaikan, di mana posisi bapak? Bagaimana sikap bapak terhadap kanon Alkitab yang sudah ada?”
Sementara itu, seorang yang sudah lanjut usia maju ke depan dan dengan nada yang emosional berkata: “Dalam usia saya seperti ini, belum pernah saya mendengarkan pengajaran seperti malam ini. Belum pernah saya mendengar adanya Injil lain selain Injil yang kita miliki. Saya tidak rela jika ada Injil lain yang disejajarkan dengan Injil yang telah kita miliki”. Mengapa dapat terjadi seperti hal di atas? Apakah hal-hal seperti itu dapat dibiarkan demi kebebasan berekspresi dengan berbagai pemahaman teologi yang dianut? Saya harus menjawab dengan tegas: tidak!
Hal itulah yang diperingatkan rasul Paulus kepada orang-orang yang merasa bebas mengungkapkan imannya di Korintus: “Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah” (1Kor.8:9).
Seruan tersebut penting untuk kita hayati bersama, khususnya para pejabat tinggi Gereja, seperti pendeta dan majelis. Seruan tersebut sangat penting dan relevan diperhatikan demi pertumbuhan iman jemaat. Seorang profesor di Trinity Theological College pernah menasehatkan mahasiswanya: “Anda bebas berteologi. Tidak ada seorang pun yang melarangmu. Tetapi berhati-hatilah, jangan sampai Anda menghancurkan iman jemaat”.

Pdt. Dr. Farel Panjaitan,M.Th.artikel

March 16, 2009

Artikel Teologi

Teologi Keadilan
Keadilan selalu terkait dengan hukum dan peradilan. Keadilan tercipta bila setiap orang dapat memperoleh apa yang menjadi haknya yaitu hak untuk hidup dalam kehidupan yang layak sebagai makhluk yang tertinggi di dunia ini dan juga hak untuk bebas memperjuangkan haknya dan juga untuk membela hak orang lain.
Di Mesir, keadilan dikenal sebagai gagasan “maat”. Maat diterjemahkan sebagai peraturan dunia (welt-ordnung), kebenaran (richtkeit) atau keadilan (grechtigkeit). Maat itu dipersonifikasi dan di-ilahikan menjadi ilahi wanita, yang berfungsi sebagai ilahi pengetahuan. Dalam “maat” akan tercipta keseimbangan unsur-unsur alam. Maat yang dikenal di dunia hikmat Mesir itu, juga berpengaruh ke Israel.
Teologia keadilan adalah satu teologia yang memusatkan perhatian pada upaya untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat dan bangsa yang korban dari berbagai ketidak-adilan. Teologia keadilan berpusat pada keadilan Allah (dikaiosune – bhs Yunani), yang memelihara, melindungi dan menyelamatkan manusia tanpa pandang bulu, hanya karena Kasih-Nya yang kekal dan ajaib itu. (Yoh. 3:16). Dosa adalah pelanggaran hukum Allah dan yang merupakan ketidak-adilan terhadap Allah. Tuhan Allah menuntut agar manusia mengakui hak dan kuasa Allah yang mutlak atas segala ciptaan (Kel. 20:5).
Sumber keadilan adalah Tuhan Allah sendiri. Sebab “Allah itu adil (tsaddiq = bhs Ibrani). Tuhan itu adil dalam segala tindakan-Nya terhadap ciptaan-Nya (Mzm. 145:17). Hukum Taurat dan Hukum Kasih Yesus berisi tentang Keadilan sebab dimana ada kasih, disitu akan ada Keadilan. Gagasan tentang Keadilan Allah harus diterapkan dengan jujur, tulus dan benar tanpa memihak (Im. 19:15), tidak menipu (Im. 19:36). Ketiga unsur itu harus dihayati, agar martabat manusia tinggi (Yes. 1:21). Keadilan Allah harus diterapkan dalam solidaritas dengan orang miskin, tertindas, terbelakang, dll (bdk. Kel. 23:7). Raja atau hakim harus tetap adil (Ams. 16:12). Keadilan harus terwujud dalam fungsi hakim (tsedeqah, Kej. 15:6). Dalam keadilan harus nampak unsur Theokratis dan etika.
Pandangan Alkitab terhadap keadilan sosial terkristal dalam kata myspat dan tsedeqah (hukum dan keadilan). Amos dipanggil Allah untuk memberitakan Keadilan dan Kebenaran kepada Israel yang sedang mengalami krisis multidimensi.

Teologia Amos didasari oleh pembebasan Israel dari Mesir, pemberitaan hukum Taurat, bimbingan Tuhan di padang gurun, dan pemberian tanah perjanjian. Amos tidak membawa amanat baru. Tetapi Ia dengan tegas mengecam kebobrokan keagamaan dan kehidupan (Am. 5:15:24). Lembaga pemerintahan diuji tentang kebenaran pelayanannya. Dalam peradilan juga terdapat konsep penyelamatan berkaitan dengan keadilan Allah (Yes. 1:24; 54:17).
Teologia kitab Amos meliputi “konsep Allah, hukum, penghukuman, ibadah, keselamatan dan menyoroti hubungan umat dengan sesamanya. Masalah keadilan dalam kehidupan bangsa Israel meliputi: (1) Penghargaan terhadap HAM bagi anak-anak hingga dewasa dan kaum tua, laki-laki dan perempuan.           (2) Hakekat ibadah sebagai pujian kepada Allah JHWH harus dilakukan dengan ikhlas. (3) Keadilan sosial adalah istilah yang berasal dari Allah sendiri dan melekat sebagai citra Allah yang dinyatakan dalam pembebasan, pemilihan dan pemeliharaan Allah atas umat-Nya. (4) Di sisi lain, keadilan berarti perwujudan tanggungjawab manusia dalam mengemban tugas dan panggilannya sebagai umat Allah. (5) Keadilan juga berdimensi eskatologis bagi Israel, yaitu, pengharapan akan kedatangan Mesias.
Yesus Kristus juga dengan tegas menegakkan keadilan dalam hukum kasih-Nya dan dalam semua ajaran-Nya dengan menekankan kepedulian kepada orang yang berkekurangan, orang yang sakit, yang tertindas, yang dalam penjara dan orang asing (Mat. 25:31-46). Keadilan harus ditegakkan dalam hubungan sesama dalam masyarakat (Mat. 12:18). Keadilan dapat terwujud apabila sifat yang selalu menonjolkan kekuatan, kekuasaan, kekerasan atau perang dihentikan. Allah yang menjadi mediator perdamaian bagi bangsa-bangsa di dunia. Perang bukanlah tujuan atau usaha mencapai tujuan, sebaliknya keadilan dan perdamaian akan terwujud apabila perang ditiadakan (Yes. 2:4-5). Istilah perang disini juga mencakup perselisihan, pertengkaran, perbantahan, perdebatan (conflicts, fights, disputes).
Keadilan dan syalom harus terwujud dalam tatanan alam dan masyarakat. Keadilan terjadi apabila kasih Allah dan kepada sesama manusia terwujud. Dan sebaliknya ketidakadilan terjadi apabila Kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia telah hilang. Yesus Kristus sendirilah Kebenaran itu (Yoh. 14:6). Jadi apa yang benar, sebab kebenaran Allah dalam diri Yesuslah yang menjadi norma keadilan. Semua ajaran Yesus dan pengorbanan-Nya bagi manusia adalah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, membebaskan manusia dari penderitaannya (jasmani dan rohani, Luk. 4:18-19).

Keadilan menurut Alkitab: “Keputusan hukum harus adil. Tidak boleh memihak (Ul. 16:18-20). Pembebasan dan perlindungan terhadap kaum lemah (Am. 2:6-7). Penyediaan kebutuhan pokok bagi yang berkekurangan (Yes. 58:7). Hukuman terhadap pelanggar hukum, ump. terhadap perampas milik orang lain dan penyalahgunaan kuasa yang ada padanya (R,. 13:3-4; I Raj. 21:1-3).
Kesimpulan

  1. Karya Allah yang mentranformasi orang berdosa menjadi anak-anak Allah di dalam Kasih karunia-Nya (Rm. 3:26) adalah wujud Keadilan Allah terhadap manusia. Jadi keadilan harus dilihat dalam terang kebenaran dan keadilan Allah yang harus terwujud nyata dalam pola hidup sebagai “manusia baru” di dalam Kristus (Ef. 4:24). Keadilan adalah tanda-tanda kerajaan Allah yang harus diwujudkan di dunia ini.
  2. Keadilan sosial adalah suatu pengakuan bahwa manusia adalah merupakan keluarga Allah, yang melampaui dimensi kepentingan pribadi. Setiap orang harus dapat menerima apa yang menjadi haknya dan menghargai martabat sesama manusia dengan menghormati “aspirasi-aspirasi serta peran serta” setiap orang. Bahkan harus sudi memperjuangkan hak orang lain demi terwujudnya hidup Syalom.
  3. Keadilan sosial harus ditegakkan dalam kehidupan ekonomi dengan adanya jaminan kesejahteraan masyarakat dan dengan terciptanya pemerataan pembangunan di setiap daerah di dalam satu bangsa. Keadilan sosial menunjukkan bahwa manusia adalah sumber, pusat dan tujuan hidup sosio ekonomi.
  4. Di era globalisasi sekarang ini, dunia menghadapi krisis multidimensi yaitu krisis iman, krisis moral, krisis HAM dan keadilan, krisis ekonomi. Gereja sebagai tubuh Kristus yang nampak di dunia ini harus menyuarakan suara kenabiannya untuk memperjuangkan hak bagi orang yang telah kehilangan hak, memperjuangkan keadilan bagi orang yang dilanda ketidakadilan.
  5. Gereja harus turut ambil bagian di dalam setiap perjuangan untuk HAM, keadilan dan martabat manusia dengan turut aktif membina warganya di bidang spiritual dan moral, baik melalui pendidikan maupun melalui pendidikan maupun melalui sikap yang tegas terhadap ketidakadilan.
  6. Gereja harus berupaya memberikan sumbangan pemikiran yang positif untuk menciptakan kondisi dimana pemerintah bersama rakyat mampu mengembangkan kebijakan dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan visi bangsa dan negara kita. Amin. Syalom. Haleluya.

Oleh : Pdt Dr Farel Panjaitan, MA, MTh

(Penulis adalah Dosen Universitas HKBP Nommensen)

Andreas A. Yewangoe/ artikel teologi

March 16, 2009

Artikel Teologi

Andreas A. Yewangoe
I. Apakah Komunikasi? Ketika saya sedang menulis artikel ini saya baru saja mendapat email dari seorang kawan yang menceriterakan mengenai rencana perkunjungan Emha Ainun Najib ke Negeri Belanda.
Emha yang dikenal sebagai seorang penyanyi, penyair, kyai dan aktivitas sosial di Indonesia itu akan membawakan acara kesenian dari tanggal 6 sampai dengan 20 Oktober 2008 atas prakarsa Gereja Protestan di Belanda (Protestantse Kerk in Nederland). Scriba (semacam Sekretaris Umum) PKN Pendeta Arjen Plaisier memberi komentar: “Gereja kita tidak dipanggil untuk memberitakan Islam, tetapi untuk menggalakkan penghormatan satu sama lain dan kejujuran dengan orang yang berbeda iman.” (1) Menurut hemat saya, inilah inti komunikasi, menjalin relasi dengan sesama guna mencapai saling pengertian, dan menghindarkan salah faham. Tidak jarang penilaian kita terhadap seseorang (atau segolongan) hanya didasarkan atas asumsi (yang biasanya keliru), atau stigma-stigma tertentu yang selama ini telah dilekatkan. Atas dasar itu kita membangun citra mengenai orang (atau kelompok) lain itu. Ketika komunikasi yang jujur benar-benar terjalin, ternyata apa yang dibayangkan dan dicitrakan itu sangat berbeda, bahkan berkebalikan 180 derajad.
Secara harfiah, (2) komunikasi berasal dari bahasa Laten: communicare (bhs Belanda: gemeen hebben; bhs Inggris: have in common, mengambil bahagian dalam sesuatu, mengumumkan) Tetapi komunikasi juga bisa diartikan secara lebih khusus, misalnya tersedianya hubungan lalulintas antara satu tempat dan tempat lainnya. “Mengambil bahagian dalam sesuatu” mengandaikan bahwa kita menjadi bahagian dari sesuatu itu, tidak merasa asing di dalamnya, tidak dianggap aneh oleh pihak lainnya. Alhasil, kita bisa mengikuti apa yang sedang terjadi, bahkan merupakan bahagian dari yang sedang terjadi itu. Biasanya para ahli komunikasi mencatat adanya tiga unsur utama di dalam komunikasi: sumber, pesan yang disampaikan, tentu dengan alatnya, dan sasaran yang kepadanya pesan disampaikan. Karena kehidupan manusia tidak sepi dari pesan-pesan, maka dapatlah dikatakan, bahwa komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia. Komunikasi dibutuhkan untuk memecah kesepian dan ketersendirian yang terdapat di dalam manusia. Bayangkanlah apabila seorang tidak mempunyai sasaran untuk mengkomunikasikan apa yang sedang dipikirkannya. Ia akan mengalami stress yang luar biasa. Maka komunikasi adalah bangunan terstruktur di dalam manusia.
Di dalam ilmu psykhologi, komunikasi (antar manusia) dipilih sebagai titik masuk guna meneliti peri-laku manusia, terutama peri-laku masyarakat. Dengan demikian, komunikasi dirumuskan secara umum sebagai: semua perilaku di mana dua atau lebih pribadi-pribadi saling mempengaruhi. Ada juga yang membedakan antara segi-segi pelaporan (raport) dan perintah dari komunikasi. Yang pertama mengacu kepada isi yang bakal disampaikan/diumumkan, sedangkan aspek kedua memberikan arahan bagaimana yang lain itu patut bereaksi terhadap isi (yang disampaikan).
Secara sosiologis komunikasi dilihat sebagai sistem, yang dengan demikian digambarkan dan dianalisis. Di dalam kerangka masyarakat pada umumnya, maka pemahaman ini terutama mengarah kepada pemakaian alat-alat di dalam berkomunikasi dan pengorganisasian dari padanya. Oleh karena makin banyak dan bervariasinya jumlah komunikasi di dalam masyarakat modern, orang cenderung berbicara mengenai sistem-sistem, organisasi, pengaruh, dan sebagainya dari alat komunikasi massa, yang disebut media massa. Memang komunikasi atau minat terhadap komunikasi di dalam sebuah masyarakat modern menjadi sangat besar, yang sering dilihat sebagai peristiwa-peristiwa sosial. Sebagai demikian, maka alat-alat yang punya kaitan dengan komunikasi yaitu bahasa menjadi penting. Pembentukan teori sosiologis yang lebih baru misalnya mengarahkan perhatian kepada pemberian makna. Sebagai struktur dasar dari semua kebersamaan manusia dan motif dari semua kejadian-kejadian historis di dalam dinamikanya yang tidak henti-hentinya. Dengan demikian, saling keterlibatan antara segi-segi komunikasi: sistem dan fenomena telah membawa kita kepada hidupnya kembali orientasi-orientasi teoritis ilmu-ilmu sosial dari masa lampau sebagaimana dilakukan Max Weber (3), G. Simmel., A.Schuetz, dan seterusnya.
Demikianlah sedikit-banyaknya penggambaran teoritis dari komunikasi, yang sebagaimana dikatakan, memang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tidak terkecuali di dalam kehidupan beragama, komunikasi memainkan peranan penting, bahkan sentral. Menyampaikan doa dan permintaan kepada Yang (dianggap) Ilahi, adalah akta komunikasi. Kemampuan berkomunikasi, yang dalam banyak hal disampaikan melalui doa dan akta-akta ritual lainnya dituntut di sini. Tentu saja, dengan sebuah asumsi bahwa Yang Ilahi itu akan membalas seruan yang disampaikan kepada-Nya, sehingga komunikasi yang terjalin adalah komunikasi dua arah.

II. Alkitab dan Komunikasi

Secara substansial dapat dikatakan bahwa Alkitab adalah sebuah buku komunikasi. Menurut pemahaman dogmatika, Allah mengkomunikasikan kehendak-Nya melalui firman yang dibukukan di dalam Alkitab. Dalam banyak pengakuan gereja, Alkitab disebut Firman Allah. Kita tidak akan membahas panjang lebar mengenai hal itu di sini, karena pasti banyak lika-likunya. Yang pasti adalah, bahwa bagaimanapun melalui Alkitab kita dapat menemukan Allah yang berkomunikasi kepada kita. Tentu saja, Alkitab dapat dibahas dari berbagai sudut, dan dengan menerapkan berbagai macam metode. Namun pada kesempatan ini, saya berpegang pada pemahaman Hendrik Kraemer (1888-1965) yang menerapkan cara pemahaman biblical realism (realisme Alkitab).(4) Artinya, dengan melepaskan diri dari berbagai metode-metode panafsiran, kita menekankan kepada realitas dari ceritera-ceritera di dalam Alkitab yang memberi makna bagi kehidupan orang-orang percaya. Itu tidak berarti bahwa cara-cara pandang yang lain tidak mempunyai makna. Namun, bagaimanapun ketika seorang percaya membaca Alkitab, ia dengan segera memperoleh makna dari yang dibacanya itu guna melanjutkan kehidupannya. Itulah yang dimaksud dengan biblical realism itu.
Demikianlah di dalam Alkitab kita bertemu dengan ceritera-ceritera tentang relasi Allah dengan manusia yang begitu harmonis, yang menandakan bahwa Ia melakukan komunikasi langsung dengan manusia. Ada gambaran yang bersifat antropomorfis di dalam kitab Kejadian misalnya, bahwa Allah berjalan-jalan di dalam taman untuk bertemu dengan manusia (Kej. 3:8). Berbeda dengan makhluk-makhluk lain, yang untuk keberadaannya difirmankan oleh Allah: “Berfirmanlah Allah, jadilah terang!”, atau “Berfirmanlah Allah, hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang liar (Kej.1:14), misalnya, tentang manusia Alkitab memberikan pemahaman yang berbeda. Manusia bukan difirmankan, tetapi difirmani. Artinya Allah mengangkat manusia sebagai mitra-Nya untuk berkomunikasi. Berbagai catatan-catatan di dalam Alkitab memperlihatkan kepada kita bagaimana komunikasi itu terjadi. Tentu saja tidak terlalu penting bagi kita sekarang untuk menyelidiki bagaimana persisnya komunikasi itu terjadi, apakah misalnya dengan cara “langsung:” layaknya dua orang yang berkomunikasi secara muka dengan muka (semacam temu wicara), atau adakah dengan cara-cara lain. Di dalam Alkitab kita menemukan cara berkomunikasi Allah dengan menusia melalui mimpi, sebagaimana dialami oleh Yakob di Bet El (Kej.28:10-22). Atau bahkan Allah sendiri “berkunjung” kepada manusia sebagaimana pengalaman Abraham dengan tiga orang tamunya (Kej.18:1-15). Diskusi mengenai hal ini akan memakan waktu yang tidak sedikit, sebagaimana diungkapkan dalam pemahaman tentang Allah yang menyatakan Diri (Revelatio Dei/Deus revelatus) (5) Kita tidak akan membahasnya di sini. Cukuplah kalau dikatakan, bahwa yang menjadi inti di dalam komunikasi Allah dan manusia adalah, bahwa ada pengambilan bahagian di dalam pengetahuan yang dipunyai Allah, kendati pengambilan bahagian itu tidaklah penuh. Artinya melalui komunikasi itulah, kita mengetahui siapakah Allah, dan apa saja yang dikehendakiNya dari manusia. Itulah inti pemberitaan Alkitab tentang Allah yang berkomunikasi.
Tetapi Alkitab yang sama juga berbicara tentang rusaknya komunikasi antara Allah dan manusia. Sudah di dalam kitab Kejadian diceriterakan mengenai dosa yang dilakukan manusia pertama itu. Dalam bentuk ceritera mitologis kita diceriterakan tentang ulah si ular yang memperdaya sang perempuan (Kej. 3:1-24). Lalu menular kepada suaminya, dan seterusnya. Ini berarti bahwa keserasian komunikasi menjadi terganggu, yang secara terus-menerus merupakan ciri utama sepanjang sejarah pergaulan manusia dengan Allah. Komunikasi yang terdistorsi itu secara berulang-ulang dan dengan berbagai cara terjadi. Memang itu tidak berarti, bahwa komunikasi tidak ada. Komunikasi tetap ada, namun sekarang ia berubah karakter. Terdapat kecenderungan komunikasi yang bersifat menuduh dan mendakwa. Sang perempuan menuduh ular, sang suami menuduh istri, yang secara tidak langsung juga menuduh Allah. Allah merespon komunikasi seperti itu dengan mengumumkan pengutukan (Kej.3:9 dstnya).
Sebagai demikian, komunikasi mestinya tidak hanya diartikan sebagai yang membawa perdamaian, tetapi juga membawa kutuk, sebagaimana diungkapkan dalam ceritera kitab Kejadian itu. Namun demikian, ada sisi lain dari komunikasi yang membawa kutuk. Komunikasi itu juga membawa berkat. Inilah rekonsiliasi. Istilah ini berasal dari bahasa Laten, re conciliare, menjadikan lagi satu sesuatu yang tadinya terbelah atau terpisah. Jadi hakekat rekonsiliasi adalah pemulihan dan penyembuhan. Tema ini terus-menerus dikomunikasikan di dalam Alkitab. Allah adalah Allah yang mendamaikan diri-Nya dengan manusia (Rm.5:1). Kendati Israel umat Allah selalu memutuskan komunikasi secara sepihak, Allah selalu setia. Ia menjalin kembali komunikasi dengan umat-Nya. Pemberitaan para nabi-nabi Israel memperlihatkan hal itu. Apa yang diragakan oleh nabi Hosea sangat menarik. Allah memerintahkan Hosea untuk mengawini seorang perempuan sundal dan memperanakkan anak-anak sundal sebagai gambaran Israel yang tidak setia (Hos. 1:2-9). Namun selalu ada janji keselamatan (Hos.1:10-12). Ada sisi penghukuman, tetapi pada saat yang sama ada juga berkat. Ada gunung Ebal, di mana kutuk diucapkan, tetapi juga ada Gerizim, ketika berkat diumumkan (Ul.11:29).
Kitab Perjanjian Baru membuka mata kita mengenai kedalaman makna komunikasi antara Allah dan manusia itu. Yesus Orang Nazaret diyakini sebagai penjelmaan Allah di dalam rupa manusia. Teologi memakai istilah “inkarnasi”, sebuah istilah Laten (Inkarnasi, in carnis = daging). Yohanes mengalimatkannya dengan Firman menjadi manusia (Yoh.1:14, ho Logos sarks egeneto). Artinya Allah memasuki peri kedagingan manusia. Dengan demikian, bukan hanya manusia mengambil bahagian di dalam kehidupan Allah, tetapi Allah juga mengambil bahagian di dalam kehidupan manusia. Allah menjadi satu sejarah dengan manusia, bahkan nasib manusia diambil-alih sebagai nasib-Nya sendiri.(6) Itulah yang jemaat Kristen yakini sebagaimana dilihat di dalam kehidupan dan perbuatan Yesus itu. Di dalam Dia, manusia berkomunikasi dengan Allah, muka dengan muka, hal yang di dalam kebiasaan Israel tidak mudah dilakukan. Kita teringat misalnya akan ceritera Musa yang setelah lama bertemu dengan Allah, wajahnya bersinar-sinar sehingga umat tidak mampu menjalin komunikasi dengannya kecuali mukanya ditutup (Kel. 34:29). Makanya orang Israel sangat tidak berani memandang wajah Allah secara langsung, sebab barang siapa melakukannya akan mati. Di dalam Yesus Kristus, wajah Allah itu bisa dipandang. Itulah hakekat komukasi langsung, yang merobohkan dinding-dinding pembatas. Tembok telah dirubuhkan, maka manusia tidak boleh lagi mendirikannya kembali ketika berhadapan dengan sesamanya manusia.

III. Komunikasi di Antara Manusia

Ketika komunikasi di antara Allah dan manusia dipulihkan, harapannya adalah, bahwa komunikasi di antara sesama manusia juga ikut dipulihkan. Ceritera-ceritera Alkitab Perjanjian Lama penuh dengan hikayat tentang terjalinnya komunikasi di antara sesama itu. Memang pada satu pihak, kita mendapat kesan bahwa Israel ditampilkan sebagai bangsa yang kudus, dan karena itu tidak boleh bercampur-baur dengan bangsa-bangsa sekitarnya. Bahkan di dalam kitab Ezra dan Nehemia ada larangan yang kuat sekali untuk menikah dengan bangsa-bangsa bukan Israel. Tetapi pada pihak lain, kita pun melihat dengan jelas bahwa perkawinan dengan orang di luar Israael boleh-boleh saja. Ceritera yang paling jelas adalah Rut (orang Moab) yang belakangan menikah dengan Jisai, nenek moyang Daud yang menurunkan Yesus Kristus. Di sinilah kita melihat dua wajah dari pemberitaan Alkitab mengenai penjalinan komunikasi dengan bangsa-bangsa lain. Guna memahami ini ada baiknya kita mengetahui latar belakangnya. Dalam ceritera Ezra dan Nehemia, kemurnian darah menjadi sangat penting, sebab umat ini baru saja pulang dari pembuangan yang sangat panjang di Babilonia. Di negeri, yang di dalamnya mereka menjadi tawanan itu, mereka telah dengan tekun memelihara kemurnian itu, sebab hanya dengan begitulah mereka survive. Kalau sekarang mereka kembali ke “tanah perjanjian”, maka kemurnian itu harus terus dipertahankan. Apa lagi mereka curiga terhadap kelompok umat Israel yang tidak ikut tertawan ke Babilonia.
Di dalam ceritera Rut, kita melihat semacam “protes” terhadap ketertutupan dan egoisme bangsa. Bahkan kitab Yunus secara terang-terangan menegaskan bahwa berkat Allah juga bisa diberikan kepada orang non-Israel, dalam hal ini orang Niniveh. Hukuman yang tadinya direncanakan Allah untuk ditimpahkan kepada Niniveh, justru dibatalkan Allah karena melihat perubahan perilaku bangsa ini. Mereka menyatakan pertobatan mereka. Ceritera ini hendak menegaskan, bahwa mestinya terjalin komunikasi yang lebih terbuka antara Israel dengan bangsa-bangsa di sekitarnya. Israel tidak diizinkan untuk mengisolasikan dirinya di dalam ghetto-gheto yang mereka bangun sendiri. Dalam kitab Ulangan kita menemukan perintah untuk tidak menindas seorang asing, sebab merekapun dulu adalah orang asing di Mesir (Kel. 22:21, 23:9; bdk.Ul.10:19). Pengalaman eksistensial Israel dipakai sebagai alasan untuk tidak memperlakukan orang asing dengan sewenang-wenang. Pendeknya Tuhan itu baik pada semua orang (Mzm.145:9).
Dalam pengalaman Yesus Kristus juga peristiwa serupa terjadi. Sebagai seorang Yahudi, tentu Beliau masih juga mempertahankan kekhasan Yahudi. Karena itu ketika seorang perempuan Siro-Fenesia berseru agar anak putrinya yang kerasukan roh jahat disembuhkan, Yesus berkata: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” (Mrk.7:27). Sang perempuan menjawab, benar, tetapi kan ada juga remah-remah yang jatuh di bawah meja dan bisa dimakan anjing. Komunikasi yang tersumbat antara orang Yahudi dan non-Yahudi dipulihkan ketika Yesus bersabda: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu telah keluar dari anakmu.” (7:29). Setan yang menghalang-halangi komunikasi yang sehat antara putri perempuan itu dengan dunia sekitarnya, sekarang diusir. Yesus menempatkan kembali komunikasi pada posisi, fungsi dan peranannya yang benar sebagai yang menguatkan kembali dan memulihkan persekutuan di antara manusia. Yesus juga menabrak kebiasaan yang lazim untuk tidak secara mudah menjalin komunikasi dengan seorang perempuan, apalagi asing sebagaimana nampak dalam kasus perempuan Samaria (Yoh.4:1-42).
Paulus makin mempertegas pemulihan relasi dan komunikasi antara orang-orang Yahudi dan non-Yahudi. Di dalam Kristus tidak ada lagi Yahudi dan Yunani, “sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” (I Kor.12:13). Artinya batas-batas yang tadinya ada, juga batas-batas komunikasi dipecahkan. Maka suasanapun mestinya menjadi lain, tadinya penuh kecurigaan, sekarang menjadi lebih terbuka. “Tembok-tembok telah dirobohkan, akankah dibangun kembali?”

IV. Gereja Adalah Prototipe Komunikasi Yang Dipulihkan

Gereja selalu dilihat sebagai prototipe manusia baru. Ketika Kristus memenangkan pertempuran untuk menciptakan ciptaan baru (lihat kitab Kolose), gereja memikul amanat itu untuk meneruskannya. Maka di dalam gereja sekat-sekat itu dirobohkan. “Aku percaya adanya gereja Kristen yang kudus dan am…” demikian bunyi salah satu artikel dalam Pengakuan Iman Rasuli. Am, artinya umum, terbuka untuk siapa saja. Ini sekaligus mengindikasikan bahwa segala batas-batas telah dihancurkan. Itulah pengakuan di dalam hakekatnya. Tetapi di dalam kenyataannya, tidak selalu demikian. Kasus gereja-gereja di Indonesia yang berasal dari suku-suku memang bisa difahami ditinjau dari segi sejarahnya. Tetapi tetap sulit dimengerti apabila gereja masih belum terbuka untuk keluar dari batas-batas suku itu. Bahkan di luarnegeripun gereja-gereja atas basis suku cukup subur. Ini menjadi pergumulan bersama kita yang tidak habis-habisnya apabila kita sungguh-sungguh ingin membuktikan keprototipean gereja sebagai umat manusia baru. Adalah tantangan gereja-gereja suku untuk membuka komunikasi yang sungguh-sungguh dengan sesama umat di manapun mereka berada.
Mungkin baik juga kita mengadakan introspeksi mengapa akhir-akhir ini umat Kristen kurang disukai oleh lingkungannya, khususnya dengan memperhatikan aksi-aksi penutupan gedung-gedung gereja. Mengapa dulu tidak? Apakah “pihak lain” itu makin agresip? Atau gereja kurang membuka komunikasi dengan lingkungannya? Atau kalau ada komunikasi, itu merupakan komunikasi yang keliru? Kita mendengar keluhan-keluhan bahwa gedung gereja misalnya yang terkesan luks dibangun di tengah-tengah kekumuhan sebuah kampung. Atau “penderitaan” orang-orang berlalulintas, karena mobil yang diparkir di depan gedung gereja menghalang-halangi lalulintas. Mungkin keluhan-keluhan seperti itu berlebih-lebihan. Mungkin juga dicari-cari. Tetapi tetap berharga untuk dipakai sebagai alat introspeksi. Gereja diamanatkan untuk mengabarkan Injil. Ini tugas yang tidak bisa ditawar-tawar. Pekabaran Injil tentu saja mengandaikan adanya komunikasi. Tetapi komuniasi yang jelek tidak akan membuat pekabaran Injil efektif. Bahkan bisa menjadi kontra produktif.
Mengklaim bahwa komunikasi adalah perdamaian sangat tergantung dari cara komunikasi dilancarkan. Juga sangat tergnatung dari apa yang dikomunikasikan. Kalau Kabar Baik dikemukakan dengan cara yang tidak simpatik, ia akan berubah menjadi kabar buruk. Ini merugikan komunitas kemanusiaan.

Jakarta, 28 September 2008

Email dari Jaspert Slob, Pendeta dan Pekerja Sosial PKN di Salatiga, akses tanggal 27 September 2008.
2 Penjelasan mengenai hal ini diambil dari De Grote Oosthoek, vol.5, (Utrecht:Oosthoek’s Uitgeversmaatschapij BV, 1976), ulasan mengenai ‘Communicatie’, pp. 211-212. Dalam ulasan ini dikemukakan juga beberapa buku tentang komunikasi seperti, Bateson and Ruesch, Communication, the Social Matrix of Psychology (1951), Watzlawick enz, De Pragmatische Aspekten van de Menselijke Communicatie (1970), H.J.Prakke, De Samensprak in Onze Samenleving (1957), D.K.Berlo, The Communication Process (1960), J.T.Klapper, The Effects of Mass Media (1961), Nan Lin, The Study of Human Communication (1973).
3 Max Weber, seorang sosiolog agama misalnya berbicara tentang spirit (semangat) yang menguasai kaum Protestan Calvinis di Eropa yang bersumber dari iman mereka akan keterpilihan mereka (predestinasi) sehingga mereka mampu menampilkan diri melalui berbagai kemajuan-kemajuan ekonomi yang dicapainya. Sedikit-banyaknya hal itu difahami sebagai sukses komunikasi yang terjadi di dalam komunitas masyarakat Calvinis itu. (Der Protestantsche Etik und der Geist des Kapitalismus)
4 Mengenai metode berpikir H.Kraemer bisa diperiksa buku-bukunya, antara lain, The Christian Message in a non-Christian World (1938), De Roeping der Kerk (1945), De Nieuwe Koers in de N.H.Kerk (1946), Communicatie, een Tijdsvraag (1957), Religion and Christian Faith (2nd, 1958), World Cultures and World Religions (1963). Juga tulisan tentang dia yang berasal dari, A.Th.van Leeuwen, H,.Kraemer (1959), C.F.Hallencreutz, Kraemer Towards Tambaram (1966). H.Kraemer bekerja di Indonesia sebagai misionaris, sebelum kembali ke Negeri Belanda untuk menjadi Guru Besar Sastra di Leiden (1937).
5 Tentang Allah Yang Menyatakan Diri, banyak sekali buku-buku dogmatika bisa dikonsultasi. Di Indonesia, buku Harun Hadiwijono, Iman Kristen; juga R.Sudarmo, Ikhtisar Dogmatika, keduanya diterbitkan oleh BPK-Gunung Mulia, Jakarta.
6. Di dalam teologi pernah muncul pemahaman yang disebut communicatio idiomatum, sebuah terminologi kristologis yang menjelaskan bahwa sifat-sifat ilahiat dan insani Kristus tunduk kepada prinsip inkarnasi itu. Ini sudah mempunyai sejarah panjang yang tidak perlu diuraikan di sini. Tradisi reformasi misalnya berpendapat, bahwa yang terbatas tidak dapat memuat yang tidak terbatas (finitum non capax infiniti) memandang prinsip itu absyah sebagai suatu pembalikan dari percakapan tetapi tidak sebagai yang melukiskan suatu pemindahan atau pengambilan bahagian dari kualitas-kualitas (ilahi atau insani). Lihat H.E.W.Turner, ‘Communicatio Idiomatum’, dalam Alan Richardson & John Bowden, A New Dictionary of Christian Theology, (London: SCM Press, 1987), p. 113.

Andreas A. Yewangoe, PGI

March 16, 2009
KEWARGANEGARAAN YANG BERTANGGUNG JAWAB
Andreas A. Yewangoe

I. Asal-usul Kalimat “Kewarganegaraan Yang Bertanggung Jawab”

Kalimat ini berasal dari almarhum Dr. J. Leimena, mantan menteri dalam banyak kabinet di era Presiden Sukarno. Pada tahun 1955 menjelang Pemilu I, beliau menulis sebuah buku (kecil) dengan judul tersebut guna mempersiapkan umat Kristen menghadapi Pemilu. Kewarganegaraan, menurut Leimena berasal dari “warganegara” yang mengacu kepada anggota dari satu negara. Ini mengasumsikan bahwa seseorang tidak dapat dipisahkan dari negaranya. Sebaliknya negara juga tidak dapat dipisahkan dari anggota-anggotanya, seperti tangan, kaki, mata, dan sebagainya. Tiap anggota mempunyai tempat, fungsí dan maksud dalam organisme yang disebut negara. Fungsí dari negara adalah mengatur, melindungi dan mempertahankan kehidupan dari bangsa sebagai kesatuan. Dengan demikian negara mempertahankan dan melindungi kehidupan dan hak-hak penduduknya. Negara mengatur hal-hal ini atas dasar hukum dan keadilan.

II. Makna Warganegara Yang Bertanggungjawab

Warganegara yang bertanggungjawab berarti bahwa warganegara itu turut bertanggungjawab atas segala sesuatu yang berlaku dalam negaranya. Ia turut bertanggungjawab atas maju dan mundurnya negara itu. Terhadap kemajuan negara, ia memuji pemerintah, terhadap kemunduran ia memberikan kecaman kepada pemerintah melalui jalan dan saluran yang legal. Karena itu, kita hanya dapat mengatakan bahwa kita adalah warga negara yang mau turut bertanggungjawab atas segala sesuatu yang berlaku di dalam negara, jika kita mempunyai keinsyafan kenegaraan (staatsbewustzijn), dan keinsyafan itu tidak dapat tumbuh, jika tidak ada suatu keinsyafan kebangsaan (volksbewustzijn).

III. Kepada Siapa Bertanggungjawab?

Pertanyaannya adalah, bertanggungjawab kepada siapa atau apa? Leimena mengutip Fasal 32 UUDS, yaitu UUD yang berlaku waktu itu: “Setiap orang yang ada di daerah negara harus patuh kepada undang-undang, termasuk aturan-aturan hukum yang tak tertulis, dan kepada penguasa-penguasa.” Jadi di sini, kata Leimena, ada kepatuhan. Kepada siapa warganegara bertanggungjawab? Secara rohani, kita bertanggungjawab kepada Tuhan Yang Mahakuasa, sedangkan secara duniawi ketatanegaraan, kepada negara dan masyarakat (bangsa). Kedua pertanggungjawaban ini didasarkan atas hukum. Menurut Leimena, dalam negara yang menganut faham demokrasilah hukum ini paling baik dapat dijalankan. Demokrasi dalam arti kata: kemerdekaan dan persamaan hak terhadap Undang-undang.
IV. Bagaimana Memahami Bangsa Yang Di dalamnya Kita Terhisab?

Pada satu pihak kita memandang bangsa dengan penuh keyakinan. Bangsa adalah tempat, yang di dalamnya kita ditempatkan untuk menjawab perintah (panggilannya) (Kis. 17:26). Tetapi pada pihak lain, Perjanjian Baru memperlihatkan suatu konsepsi mengenai bangsa yang dipengaruhi oleh perspektif eskatologis (Fil. 3:20, “kewarganegaraan kita ada di sorga”). Ada “spanning” (ketegangan) di dalam kehidupan kita. Ketegangan itu bersifat paradoksal.

V. Bagaimana Kita Memandang Negara?

Juga bersifat paradoksal. Kita adalah sekaligus warganegara dari dunia ini dan warga Kerajaan Surga. “Double citizenship”. Sebagai warganegara yang turut bertanggungjawab terhadap kehidupan bernegara, orang Kristen harus turut serta dalam menentukan dasar dan bentuk negara, ia harus turut serta dalam menentukan pemerintahan negara dan turut serta dalam menentukan peraturan-peraturan hukum UU dan lain lain hal yang mengatur kehidupan negara.
Maka pertanyaan lanjutan adalah, sampai berapa jauhkah kekuasaan negara itu mengikat; apa yang menjadi sumber kekuasaan negara; sampai berapa jauh orang Kristen dapat taat kepada negara?
Semua pertanyaan-pertanyaan ini, kata Leimena dikerucutkan pada persoalan relasi negara dan gereja. Atau dikalimatkan dengan cara lain, bagaimana orang Kristen dapat hidup dengan Tuhannya dan pada saat yang sama sebagai warganegara yang baik. Untuk itu Leimena secara singkat mengangkat pandangan 3 teolog besar tentang negara: Martin Luther, Yohanes Calvin (keduanya dari abad ke 16) dan Karl Barth (dari abad ke 20).
Luther terkenal dengan teori “dua kerajaan”. Negara dan gereja, dalam pandangan Luther adalah dua hal yang terpisah. Dengan demikian kehidupan negara gampang dilepaskan dari penguasaan Kristus. Ini berbahaya. Dalam sejarah dunia, kita sudah melihat contoh yang mengerikan yaitu timbulnya Negara “Nazi” Adolf Hitler. Calvin berpendapat bahwa, ibadah kepada Allah dalam dan oleh kehidupan kekristenan meliputi semua hal dan bidang. Itu juga berarti bahwa kegiatan di lapangan politik merupakan ibadah kepada Allah. Memang ada dua lingkungan (yang berbeda), yaitu gereja dan negara, tetapi Kristus adalah Kepala dari keduanya. Maka ketertiban politik juga harus memuliakan Nama Tuhan dengan jalan mengatur keadilan, perdamaian, kemerdekaan secara duniawi. Kalau pemerintah bersedia memperlihatkan dasar kerohanian ketertiban politik, yaitu mempertahankan keadilan, perdamaian dan kemerdekaan, maka orang Kristen wajib bekerja bersama dengan orang-orang yang berkuasa di lapangan politik.
Karl Barth mengeritik Calvin bahwa pendiriannya itu terlalu dipengaruhi faham teokrasi abad pertengahan. Sebagai gantinya, Barth memberikan dasar kristologis dari negara. Menurut Barth, negara harus dipandang dari sudut kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Kepala dari gereja dan negara. Karena itu negara berkewajiban menurut ketentuan Allah dalam suatu dunia yang masih berada dalam genggaman dosa. Negara menjalankan tugas menurut kebijaksanaan dan kemampuan yang ada padanya. Pada pihak lain, gereja adalah persekutuan dari orang-orang yang ditebus oleh Tuhan, sedangkan negara adalah persekutuan politik. Kalau gereja benar-benar mengakui kekuasaan Tuhan Yesus, maka gereja tidak boleh mengisolasi dirinya. Gereja adalah lingkaran dalam (inner circle/binnenste cirkel) dari kekuasaan Kristus, sedangkan masyarakat adalah lingkaran luar (outer circle/buitenste cirkel). Hubungan negara dan gereja adalah suatu perhubungan dari lingkaran (concentrische cirkels), kedua lingkaran itu mempunyai satu titik pusat (middelpunt), yaitu Yesus Kristus. Maka negara tidak boleh menjadi gereja, dan gereja tidak boleh menjadi negara. Dasar negara haruslah sekuler.

VI. Bagaimanakah Sikap Gereja dan Umat Kristen di Tengah Masyarakat Indonesia yang Bergolak?

Inilah pertanyaan penting sekali. Dapatkah gereja menjadi terang dan garam? Dapatkah gereja menjadi hati nurani masyarakat? Apakah mungkin dengan sikap ini masyarakat kita, yang sebagian besar terdiri dari orang-orang pemeluk agama lain dapat diubah ke arah perbaikan menurut faham agama kita? Leimena menjawabnya dengan “Ya”, karena masyarakat selalu mengindahkan dan menghargai sikap dan tindakan-tindakan yang didasarkan atas pengasihan sesama manusia. Seperti padi tumbuh tanpa bersuara, demikian juga adalah pengaruh pengasihan ini dalam kehidupan masyarakat. Dari masyarakat Indonesia memang tidak dapat diharapkan bahwa tiap pemerintahan mempunyai keinsyafan bertanggungjawab, bukan saja kepada rakyat (parlemen) tetapi juga kepada Tuhan, tetapi sedikitnya kita dapat berusaha agar pemerintah kita terdiri dari orang-orang yang mempunyai keinsyafan itu. Maka beberapa sentral pembangunan masyarakat perlu mendapat perhatian kita: keluarga, sekolah, organisasi pemuda/i, tempat-tempat pekerjaan, gereja.

VII. Kesimpulan

Pada bagian akhir tulisannya, Leimena merumuskan kesimpulannya yaitu, bagaimana kita bisa hidup sebagai orang Kristen yang sejati dan warganegara yang sejati. Bagi Leimena, dalam hal kecintaan, kesetiaan, ketaatan kepada dan pengorbanan bagi tanah air, bangsa dan negara, orang Kristen tidak dan tidak boleh kurang dari pada orang-orang lain, bahkan ia harus menjadi teladan bagi orang lain sebagai pencinta tanah air, warganegara yang bertanggungjawab dan nasionalis sejati. Semua itu adalah refleksi dari kecintaan, kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhannya, dengan pengertian Soli Deo Gloria. Dengan demikian, Leimena menegaskan, kita jangan mengidap penyakit minderwaardigheidskompleks (rasa rendah diri). Sikap tegas kita adalah: Umat Kristen bukanlah suatu minoritas, dilihat dari sudut ketatanegaraan, ia bukan warganegara kelas 2 atau kelas 3, ia adalah warganegara yang mempunyai sama hak dan sama kewajiban seperti warga negara-warga negara lain.

VIII. Masih Relevankah Pandangan Leimena ini?

Pertanyaan bagi kita yang hidup pada era ini adalah, masihkah pandangan Leimena ini relevan? Jawabannya adalah “Ya”. Tentu saja karena buku ini ditulis 53 tahun lalu, dengan tantangan berbeda, maka tugas kitalah untuk mengambil nilai-nilai yang berguna bagi kita sekarang. Ketika buku ini ditulis, negara kita baru berusia 10 tahun. Pada waktu itu masih menjadi pertanyaan, apakah dasar negara, kendati dalam UUD 1945 nilai-nilai Pancasila itu telah dirumuskan dengan jelas. Pemilu 1955 selain memilih anggota DPR, juga anggota-anggota Konstituante. Merekalah yang ditugaskan untuk merumuskan dasar negara. Sebagaimana kita ketahui, perdebatan mengenai dasar negara (apakah Pancasila, Islam, Sosial-ekonomi) yang telah berlarut-larut menemui jalan buntu . Maka Presiden Sukarno mendekritkan “Dekrit Presiden” pada Juli 1959 untuk kembali kepada UUD 1945. Dengan demikian, dasar negara juga ditetapkan (atau dikokohkan), yaitu Pancasila. Maka dalam buku ini kita merasakan adanya nuansa bagi perjuangan menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. Leimena mengusulkan sebuah dasar negara yang bersifat sekuler. Kita tidak tahu persis pertimbangan beliau. Mungkin sekali beliau melihat Pancasila sebagai yang bersifat sekuler. Atau mungkin juga beliau dibayang-bayangi oleh India dan Turki yang secara tegas menetapkan negara mereka masing-masing sebagai bersifat sekuler.Bagaimanapun pada akhirnya Pancasila diterima secara resmi, dengan rumusan yang terkenal (belakangan), “Indonesia bukan negara teokrasi, bukan negara sekuler”. Dengan demikian diakui peranan negara di dalam mengayomi agama-agama, tanpa campurtangan di dalam urusan “intern” agama-agama.
Sebagaimana kita lihat sekarang ini perjuangan menegakkan Negara Pancasila juga tidak mudah. Bahkan orang sekarang segan menyebut Pancasila. Dalam jajak pendapat di kalangan mahasiswa baru-baru ini hanya 4 atau 5% yang masih mengingat Pancasila. Pancasila dianggap “gagal” karena Orde Baru telah menjadikannya sebagai alat kekuasaan. Kita teringat akan P4 yang makin lama makin bersifat indoktrinatif. Muculnya berbagai perda-perda bernuansa syariah barangkali bisa dilihat juga sebagai ungkapan ketidakpuasan itu, di samping tentu saja adanya motif-motif lain. Sebagai umat Kristen, kita didorong untuk terus memperjuangkan tegaknya Negara Pancasila, sebab itulah yang menjamin kelangsungan hidup sebuah negara yang warganegaranya sangat majemuk ini. Itu tidak berarti bahwa kita takut hidup dalam sebuah negara dengan dasar lain. Tidak demikian. Tetapi sebagai warganegara yang hak dan kewajibannya sama dengan yang lainnya kita berhak untuk menuntut hal itu. Lagi pula inilah kesepakatan bangsa ketika negara ini didirikan.
Berkaitan dengan Pancasila, perlu ditekankan kembali rasa kebangsaan itu. Orang Kristen adalah seratus persen nasionalis, dan seratus persen orang beriman. Artinya loyalitas kepada negara dan bangsa justru adalah refleksi iman Kristen. Tidak ada pertentangan di antara keduanya. Orang Kristen tidak berkiblat kepada suatu negara lain, atau apapun namanya. Karena itu penegasan Leimena agar kita tidak mengidap penyakit rendah diri perlu ditekankan berulang-ulang. Tetapi tentu saja dengan memperlihatkan keteladanan di dalam upaya-upaya bersama menyelesaikan berbagai persoalan-persoalan bangsa. Tidak rendah diri, tetapi juga tidak arogan. Kita menjadi senasib dengan bangsa ini, dan sekaligus pengharapan bangsa ini adalah pula pengharapan kita.
Segi lain yang perlu ditekankan adalah tugas negara untuk mengayomi dan melindungi semua warganegara. Negara tidak boleh mengidentikkan diri dengan salah satu agama, betapapun besarnya agama itu. Maka keputusan-keputusan pemerintah (sebagai salah satu pengejawantahan negara) tidak boleh didasarkan atas nasihat ahli-ahli agama, tetapi atas dasar konstitusi. Sekali negara tidak mengindahkan ini, maka negara telah ikut campur di dalam urusan-urusan agama. Ucapan Leimena bahwa negara tidak boleh menjadi gereja, dan sebaliknya gereja tidak boleh menjadi negara, bermakna bahwa masing-masing “institusi” mempunyai tugasnya masing-masing yang tidak boleh dicampurbaurkan. Negara tidak berteologi. Hanya agama yang berteologi. Maka cap “sesat” terhadap sebuah aliran misalnya tidak boleh berasal dari negara. Cap itu hanya berasal dari agama, dan agama (bukan negara!) berkewajiban mengembalikan “yang sesat” itu ke “jalan yang benar”. Bagi kita di Indonesia, relasi antara agama dan negara belum selesai dirumuskan hingga saat ini. Selama ini belum tuntas, maka berbagai persoalan-persoalan ikutannya akan muncul di masa depan.
Benar yang dikatakan Leimena, bahwa masyarakat menghargai kasih (ia mempergunakan istilah “pengasihan”) yang diperlihatkan. Sikap defensip yang kita perlihatkan sekarang karena misalnya rumah-rumah ibadah ditutup, pada satu pihak dapat difahami (ditinjau dari segi hak!), tetapi pada pihak lain ada baiknya dibuka pemahaman baru di dalam memahami makna kemajemukan itu sendiri. Artinya kemajemukan kita diterjemahkan ke dalam hal-hal praksis ketika kita misalnya secara bersama-sama, lintas agama (dan suku) memerangi kemiskinan yang masih sangat merajalela di dalam bangsa kita.

_____________
*) Disampaikan Dalam Diskusi Persekutuan Alumni Kristen Sumatera Utara (PAKSU) pada 10 Agustus 2008 di Jakarta.
**) Ketua Umum PGI.

Hello world!

March 10, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!